Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Curhat Tukang Kopi Keliling Sepi Pembeli, Keluhkan Tak Bisa Mudik Lebaran

Niko Prayoga , Jurnalis-Kamis, 05 Maret 2026 |14:48 WIB
Curhat Tukang Kopi Keliling Sepi Pembeli, Keluhkan Tak Bisa Mudik Lebaran
Curhat Tukang Kopi Keliling Sepi Pembeli, Keluhkan Tak Bisa Mudik Lebaran (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Puasa tak menyurutkan semangat Chandra (29) untuk mencari rezeki. Berbekal tenaga dan kotak pendingin berisi puluhan cup kopi serta sepeda listrik dari sang pemilik, ia menyusuri jalanan ibu kota meski panas dan dahaga menyerang.

Tukang Kopi Keliling, itulah sebutan orang-orang yang biasa disematkan kepadanya. Pemuda rantau asal Medan, Sumatera Utara, itu sudah tiga tahun lebih melakoni pekerjaan sebagai tukang kopi keliling.

Dari satu tempat ke tempat lainnya ia tempuh, satu per satu juga kopi yang dibawanya dari tempat pengambilan habis oleh para pembeli. Biasanya, senyum lebar selalu terpancar dari wajahnya karena kopi yang ia jajakan selalu habis setiap hari.

Namun senyum itu jarang terlihat lagi saat Ramadhan kali ini. Di tengah lapar dan dahaga yang ditahan banyak orang di siang hari, ia juga harus menahan getir dan kesabaran karena penjualan kopinya yang menurun.

“Kalau dibilang sepi, penjualan bisa dibilang menurun daripada bulan-bulan biasanya. Karena kebanyakan ada yang puasa, ada yang enggak puasa juga. Kalau pendapatannya jelas-jelas menurun, beda dengan bulan sebelumnya,” ungkap Chandra saat diwawancarai di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (2/3/2026).

Jika biasanya dalam satu hari Chandra bisa menjual 50 hingga 100 cup kopi, saat Ramadhan kali ini justru ia hanya bisa menjual 20 hingga 30 cup kopi. Itu pun dengan keringanan target dari sang pemilik yang sebelumnya menargetkan penjualan setiap hari hingga 50 cup menjadi 35 cup per hari.

Hal itu juga dibarengi dengan tantangan dan ujian kesabaran tersendiri, di mana ia harus bersabar saat berjualan di pagi atau siang hari. Sebab biasanya, dagangannya baru banyak dibeli saat sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

“Penjualan juga yang biasanya bisa kita dapat satu hari penjualan 50 cup, 80 cup, bisa sampai 100 juga. Nah, ini paling mentok ya 30, 20 gitu. Itu pun ramainya pas sore-sore mau berbuka puasa, kalau pagi susah. Kalau untuk jelang berbuka ada saja, Alhamdulillah ada yang buat buka puasa juga ada, sampai malam juga ada,” kata dia.

Sehari-hari ia berkeliling di sekitar Tanah Abang dan kawasan perkantoran di Jakarta Pusat. Adanya pembeli yang tidak menjalankan ibadah puasa saat siang hari justru menjadi rezeki bagi dirinya untuk mendongkrak target penjualan.

“Ya, di daerah Tanah Abang yang selalu banyak takjil, di situ doang. Kadang muter-muter gitu kalau siang di kantoran. Kebantu, jelas kebantu (pembeli di siang hari yang tidak berpuasa),” ungkap Chandra.

Waktu pun seakan bukan halangan, target yang harus tetap dikejar demi gaji yang didapat membuat Chandra terkadang harus berjualan hingga malam hari jika belum mencapai target. Namun jika penjualannya sudah mencapai target yang ditentukan, ia bisa pulang lebih awal di sore hari.

“Nah, kalau ini sesuai target. Kalau dia dapat 50 cup, jam 06.00, jam 05.00 sudah bisa pulang,” cetus Chandra.

Tak jarang, ia harus ikhlas kopinya terjual seadanya jika sampai malam hari target yang ditentukan belum tercapai sama sekali. “Kalau sudah target harian kan jarang. Ya, seadanya saja, jualan sedapat-dapatnya,” tambah dia.

Rasa khawatir terkadang menyelimuti dirinya. Penjualan yang menurun sama dengan gaji bulanan ikut menurun. Hal itu menjadi hal yang selalu dipikirkan Chandra di tengah Ramadhan seperti ini. Apalagi, dengan gajinya yang menurun ia terancam tidak bisa mudik ke tanah kelahirannya di Medan, Sumatera Utara.

Tahun kemarin ia masih bisa merasakan mudik dengan gaji bulanan dari berjualan kopi keliling selama Ramadhan yang mencapai Rp5 juta. Namun untuk tahun ini, ia memperkirakan dirinya hanya akan mendapat Rp2 juta dan tidak cukup untuk dirinya bertahan hidup di Jakarta, apalagi harus mudik saat Lebaran.

“Ya, jelas nggak pulang kayaknya. Kalau tahun ini (di bulan Ramadhan) kayaknya dapat-dapat paling banyak tuh Rp2 juta ke atas gitu,” papar Chandra.

Meski demikian, Ramadhan tahun kemarin dirinya juga tidak merasakan mudik Lebaran ke kampung halaman walaupun gaji bulanan dari berjualan kopi keliling di bulan Ramadhan mencapai Rp5 juta.

Sebab, nominal sebesar itu dinilai masih kurang untuk mencukupi kebutuhan dan ongkos dirinya selama di perjalanan dan di kampung halaman. Belum lagi, ongkos dirinya untuk kembali ke Jakarta dan melakoni pekerjaan serupa.

“5 juta ada, cuma memang benar ngumpulin uang dulu. Kalau mau pulang uang pas-pasan malu. Tetap nggak pulang,” pungkas dia.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement