JAKARTA - Berpuasa berarti tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Bagi sebagian orang, hal ini bisa meningkatkan risiko hipoglikemia atau gula darah rendah.
Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun di bawah 70 mg/dL. Glukosa sendiri adalah sumber energi utama tubuh, terutama bagi otak.
Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh bisa mulai menunjukkan gejala yang cukup mengganggu, bahkan berbahaya jika tidak ditangani. Selama puasa, tubuh menggunakan cadangan energi yang tersimpan.
Jika sahur terlalu sedikit, melewatkan sahur, konsumsi karbohidrat sangat minim, atau melakukan aktivitas fisik terlalu berat di siang hari, maka kadar gula darah bisa turun lebih cepat. Apalagi bagi orang dengan diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah, serta mereka yang makan tidak teratur dan memiliki gangguan hati.
Gejala hipoglikemia bisa muncul tiba-tiba dan sering terasa seperti “drop” mendadak, seperti gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, pusing, lemas, lapar hebat, hingga pada kondisi terparah bisa pingsan. Jika gejala muncul saat puasa dan terasa signifikan, ini bukan sekadar lapar biasa, tetapi bisa jadi tanda gula darah terlalu rendah.
Saat berpuasa, ada beberapa kelompok yang harus lebih waspada terhadap hipoglikemia, di antaranya:
Dalam kondisi hipoglikemia, keselamatan lebih utama daripada melanjutkan puasa. Secara medis, kadar gula darah rendah perlu segera dinaikkan dengan karbohidrat cepat serap seperti jus buah, madu, permen glukosa, ataupun gula.
Maka dari itu, agar puasa tetap aman, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, seperti:
Dengan persiapan yang tepat, puasa tetap dapat dijalani dengan aman tanpa risiko penurunan gula darah yang drastis.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.