Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Bahaya ‘Dopamin Buatan’ Whip Pink, dari Sensasi Melayang hingga Hilangnya Kemampuan Otak

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 31 Januari 2026 |21:57 WIB
Ini Bahaya ‘Dopamin Buatan’ Whip Pink, dari Sensasi Melayang hingga Hilangnya Kemampuan Otak
Ini Bahaya ‘Dopamin Buatan’ Whip Pink, dari Sensasi Melayang hingga Hilangnya Kemampuan Otak (Foto: Threads)
A
A
A

JAKARTA – Publik dikejutkan dengan maraknya penyalahgunaan whip pink atau yang kerap disebut sebagai “gas tawa”. Fenomena ini kembali menjadi sorotan setelah tabung whip pink ditemukan di kamar selebgram Lula Lahfah yang meninggal dunia akibat henti jantung. Sejak saat itu, perhatian masyarakat tertuju pada bahaya di balik tren menghirup gas tersebut yang diklaim dapat menimbulkan sensasi “melayang” dan rasa bahagia sesaat.

Di kalangan tertentu, whip pink disalahgunakan untuk mendapatkan lonjakan dopamin instan. Efeknya disebut-sebut mampu membuat pikiran terasa ringan, euforia, dan seolah terlepas dari beban masalah. Padahal, di balik sensasi singkat tersebut, terdapat risiko serius terhadap kesehatan mental dan fungsi otak.

Perlu diketahui, whip pink sejatinya adalah tabung gas charger yang berisi Nitrous Oxide (N₂O). Dalam dunia kuliner, gas ini legal dan digunakan untuk mengubah krim cair menjadi whipped cream secara instan. Namun, ketika zat tersebut dihirup langsung oleh manusia tanpa pengawasan medis, penggunaannya masuk dalam kategori penyalahgunaan.

Psikolog klinis forensik, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa Nitrous Oxide dalam konteks medis berfungsi sebagai anestesi ringan dan pereda nyeri. Penggunaannya pun dilakukan dengan dosis ketat serta pengawasan tenaga kesehatan. Masalah muncul ketika zat ini digunakan di luar fungsi medis dan dikonsumsi berulang demi mengejar efek psikologis tertentu.

“Whip pink yang dikenal sebagai ‘gas tertawa’ umumnya berisi nitrous oxide (N₂O), zat yang dalam dunia medis digunakan sebagai anestesi ringan. Namun, ketika disalahgunakan atau digunakan secara berlebihan di luar pengawasan medis, zat ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang signifikan,” ujar Kasandra saat diwawancarai, Sabtu (31/1/2026).

Sensasi Dopamin Instan dan Efek “Melayang”

Kasandra menerangkan, secara biologis Nitrous Oxide bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat. Zat ini memicu pelepasan dopamin secara cepat, yakni neurotransmiter yang berperan penting dalam sistem penghargaan otak dan rasa senang. Lonjakan dopamin inilah yang menimbulkan sensasi euforia singkat, tawa spontan, hingga perasaan “melayang”.

“Efek ini sering dianggap sebagai pelarian dari stres, tekanan emosional, atau masalah hidup. Nitrous oxide menstimulasi pelepasan dopamin sehingga pengguna merasa bahagia secara instan, meskipun hanya berlangsung dalam waktu singkat,” jelasnya.

Karena efeknya cepat dan tidak memerlukan proses panjang seperti terapi atau pengelolaan emosi, whip pink kerap disalahgunakan sebagai jalan pintas untuk mengatasi tekanan psikologis. Namun, sensasi tersebut bersifat semu dan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Ancaman Setelah Euforia Menghilang

Di balik tawa dan rasa senang sesaat, terdapat konsekuensi psikologis yang kerap diabaikan. Kasandra menegaskan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk menerima lonjakan dopamin buatan secara terus-menerus tanpa dampak lanjutan. Ketika efek Nitrous Oxide mereda, otak justru mengalami “kekosongan” karena penurunan respons dopamin alami.

“Para peneliti menegaskan bahwa sensasi dopamin tersebut bersifat buatan dan sementara. Saat efeknya menghilang, otak bisa mengalami penurunan sensitivitas terhadap dopamin alami. Akibatnya, pengguna berisiko merasa hampa, murung, mudah gelisah, bahkan mengalami penurunan mood yang lebih tajam dibanding sebelum penggunaan,” papar Kasandra.

Kondisi ini mendorong sebagian pengguna untuk kembali menghirup gas tersebut demi mengulang sensasi euforia, sehingga tercipta pola penggunaan berulang yang berbahaya.

Risiko Ketergantungan dan Kerusakan Fungsi Otak

Jika penggunaan whip pink dilakukan berulang dalam jangka panjang, dampaknya tidak lagi terbatas pada naik-turunnya suasana hati. Menurut Kasandra, penyalahgunaan Nitrous Oxide dapat memicu ketergantungan psikologis, di mana seseorang merasa sulit menghadapi stres tanpa bantuan dopamin instan.

“Ketergantungan psikologis muncul dalam bentuk dorongan untuk terus mengulang penggunaan sebagai cara cepat mengatasi tekanan emosional. Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan kesulitan regulasi emosi karena otak terbiasa dengan jalan pintas dopamin instan,” ungkapnya.

Lebih jauh, ketergantungan tersebut berpotensi mengganggu fungsi kognitif, seperti konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengambil keputusan. Otak secara perlahan kehilangan kemampuannya untuk mengelola emosi dan rasa senang secara alami.

Dampak Neuropsikiatri Jangka Panjang

Kasandra menambahkan, sejumlah studi juga mengaitkan penyalahgunaan Nitrous Oxide dengan gangguan neuropsikiatri, termasuk kecemasan kronis, perubahan perilaku, hingga gangguan pada sistem saraf. Kondisi ini menunjukkan bahwa efek whip pink tidak berhenti pada euforia sesaat, tetapi dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental.

“Dalam jangka panjang, penyalahgunaan nitrous oxide juga dikaitkan dengan gangguan neuropsikiatri, termasuk kecemasan kronis dan perubahan perilaku. Ini menegaskan bahwa meskipun dikenal sebagai gas tertawa, efeknya tidak selalu berujung pada kesejahteraan psikologis,” tandas Kasandra.

Fenomena whip pink menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang memberi rasa senang instan aman bagi tubuh dan pikiran. Sensasi dopamin buatan mungkin terasa menyenangkan sesaat, namun risiko jangka panjangnya dapat merusak kemampuan otak dalam mengelola emosi, stres, dan kebahagiaan secara sehat.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement