PASUKAN Israel mengepung Rumah Sakit Al-Amal, Khan Younis, Gaza Selatan selama 18 hari. Selain itu, mereka juga telah memblokir seluruh akses jalan dan memerintahkan ribuan warga dievakuasi pada Selasa 6 Februari 2024.
Beberapa pekan terakhir, Pasukan IDF melancarkan pengeboman intensif di Gaza Selatan, termasuk wilayah Khan Younis. Rumah Sakit Nasser juga berdampak dikepung, bahkan hanya lima tim medis yang masih dapat memberikan layanan kesehatan kepada pasien.
Koordinator Bantuan Departemen Manajemen Risiko dan Bencana PCRS, Saleem Aburas, menyampaikan situasi di Rumah Sakit Al-Amal sangat memprihatinkan. Pasukan Israel akan menargetkan siapa pun yang berada di sekitar rumah sakit.
“Situasi di rumah sakit telah memburuk. Kami kekurangan pasokan medis yang penting, air minum dan makanan. Militer Israel telah menghambat masuknya pasokan medis ke rumah sakit,” ujar Aburas (30), dikutip dari Intercept, Rabu(14/2/2024).
Masyarakat Gaza terjebak, bahkan sebagian besar akses komunikasi diputus. Aburas menambahkan bahwa untuk mendapatkan sinyal, dia harus naik ke atap rumah sakit. Hal itu merupakan tindakan yang sangat berisiko menjadi sasaran penembak jitu.

Pada saat ini, jumlah korban tewas warga Palestina hampir mencapai 28.000 orang. Sukarelawan dari PCRS itu telah menghadapi enam kali agresi Israel di Jalur Gaza. Aburas menuturkan kondisi kesehatan masyarakat terus memburuk. Oleh karena itu, tim medis kesulitan menangani pasien.
“Tentara Israel meminta masyarakat untuk berada di dalam rumah sakit, tetapi juga menargetkan warga sipil di luar fasilitas tersebut. Pada 28 Januari, Omar Abu Hatab tewas akibat penembak jitu, bersama dengan Ahmed Muhareb yang berusaha menyelamatkannya. Keduanya dimakamkan di halaman rumah sakit,” katanya.
Israel semakin meningkatkan serangannya dan menyebabkan berbagai kerusakan di Rumah Sakit Al-Amal. Tentara IDF menyerbu fasilitas tersebut hingga memicu kebakaran di tempat pengungsian. Bagi Aburas, tidak ada tempat aman bagi warga Gaza.
“Pengepungan paling parah terjadi pada 30 Januari. Penjajah (Israel) memerintahkan warga mengungsi, tetapi tidak ada lagi tempat aman untuk berlindung karena setiap wilayah di Gaza menjadi sasaran,” katanya.
Hedaya Hamad (42), anggota PCRS tewas akibat pengeboman dan telah dimakamkan di halaman rumah sakit. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) juga melaporkan jumlah korban pekerja yang meninggal mencapai 12 orang.
“Hamad merupakan satu dari tiga pekerja Bulan Sabit Merah yang gugur. Bagi kami, Hamad bagaikan ibu pengasuh berjiwa bak malaikat, membantu semua orang, dan bekerja tekun memastikan anggota lainnya mendapat bagian dari persediaan makanan,” ucapnya.
Memasuki minggu ketiga pengepungan, rumah sakit hampir kehabisan pasokan bahan bakar. Adapun kelangkaan makanan dan susu untuk anak-anak. Beberapa staf medis telah dievakuasi bersama ribuan pengungsi pada awal pekan. Sebanyak 8.000 diperkirakan orang berpindah ke Rafah. Para warga sipil terpaksa berjalan kaki dari Khan Younis.
Sementara itu, sebagian tim medis, anggota Bulan Sabit Merah Palestina, dan pasien masih terjebak di rumah sakit tanpa mendapatkan kebutuhan hidup dasar.
(Leonardus Selwyn)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.