Dave bertemu dan berbincang dengan tamu lain, Ned dan Tom dari Australia. Mereka menanggapi bagaimana layanan di resor tersebut. Meski ikut membandingkan dengan resor di tempat wisata lain yang menurut mereka memiliki pelayanan lebih baik.
Keesokan paginya, Dave mengambil salah satu perahu kecil di resor untuk mendayung di sekitar pulau. Salah satu petugas resor memperingatkan agar Dave tidak pergi ke daerah timur pulau karena keberadaan buaya di hutan bakau.
Namun, Dave justru mengkhawatirkan jika buaya di sekitar sana bisa berenang beberapa mil ke arah mana pun. Menurutnya, mendayung di sekitar tempat tersebut dapat mengancam dirinya.
Dia mengaku membaca keluhan yang sama dari turis lain yang menginap di resor yang berbeda di Kepulauan Togean dalam situs Tripadvisor yang mengatakan, penduduk memberi makan buaya liar hanya 100 meter di belakang karang dekat rumah.
Dave kemudiwm melirik area terumbu karang yang disinggahi banyak pengunjung lainna untuk melakukan snorkeling. Dan area tersebut terlihat cukup aman untuk diselami Di bawah laut, ia melihat taman karang yang luas, dengan sebagian besar kondisinya yang tidak berwarna atau mati.
Selepas menyelam, Dave naik ke permukaan dan segera memutuskan untuk pindah ke resor lain meski sedikit lebih mahal. Di sana, ia merasa mendapat sajian yang lebih baik, walaupun tidak bisa tidur karena listrik dan kipas yang dimatikan saat malam hari.
Esok paginya, Dave memutuskan untuk menghentikan liburannya dan memesan perahu bersama beberapa turis lainnya untuk segera membawanya kembali ke Wakai.
"Kepulauan Togean terlihat seperti surga. Tetapi bagi saya, mereka terasa seperti neraka," pungkas Dave.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.