Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Turis Kanada Sebut Kepulauan Togean bak Neraka, Begini Reaksi Sandiaga

Erfan Erlin , Jurnalis-Selasa, 29 Agustus 2023 |18:25 WIB
Turis Kanada Sebut Kepulauan Togean bak Neraka, Begini Reaksi Sandiaga
Menparekraf Sandiaga Uno di Yogyakarta (Foto: MPI/Erfan)
A
A
A

MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menanggapi keluhan turis Kanada terkait fasilitas di Kepulauan Togean dan menyebut destinasi wisata di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah itu sebagai "neraka" baginya.

Sandiaga meminta agar keluhan itu segera ditangani dan ke depan tidak ada lagi kejadian tersebut. Sandi mengatakan peristiwa tersebut bisa merusak reputasi Indonesia sebagai surganya wisata bawah laut. Sehingga dia berharap agar persoalan tersebut segera diselesaikan dan wisatawan yang mengeluh tersebut untuk difasilitasi semaksimal mungkin.

"Insya Allah saya sudah pernah ke kepulauan Togean dan tentunya alam bawah lautnya itu sangat luar biasa dan itu udah warisan UNESCO," kata Sandiaga usai membuka Rakernas ASITA di Yogyakarta, Selasa (29/8/2023).

 BACA JUGA:

Sandi sudah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pariwisata di Sulteng dan meminta pelayanan SDM serta fasilitas pariwisata harus ditingkatkan. Sehingga menurutnya jika ada keluhan dari wisatawan mancanegara itu akan segera mereka tangani dan segera mereka fasilitasi. Tujuannya agar hal tersebut tidak menjadi preseden buruk dan menurunkan reputasi Indonesia sebagai surganya wisata bawah air.

Meskipun Sandi mengatakan Kepulauan Togean adalah surganya wisata bawah laut, namun sebuah postingan kekecewaan turis asal Kanada Dave Smith di media South China Morning Post pada Senin 21 Agustus 2023 membuat kepulauan ini menjadi sorotan dunia.

 Ilustrasi

Kepulauan Togean

Dave tertarik ke Kepulauan Togean karena membayangkan bisa berenang bersama ubur-ubur. Sebab selama ini, Perairan Togean merupakan tempat berkembang biaknya hewan laut, seperti ubur-ubur tanpa penyengat, dugong, nda -hingga penyu sisik yang hampir punah.

Dave akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke kepulauan tersebut melalui rute Bali-Makasar-pelabuhan kecil Ampana. Baru kemudian berangkat menggunakan kapal Feri ke Wakai, sebuah desa terbesar di Kepulauan Togean.

 BACA JUGA:

Selama perjalanan, ia berbincang dengan penduduk lokal ramah yang menawarkannya kopi. Ia juga mendapati atraksi lumba-lumba yang melompat ke permukaan ketika setengah perjalanan. Hingga akhirnya terbesit kekecewaan ketika tiba di Wakai, ternyata dikelilingi air kotor dan lumpur, di mana terdapat buaya air asin yang kerap muncul di malam hari. Ketika Dave tiba, ia mendengar kabar bahwa seorang nelayan baru saja meregang nyawa dimakan buaya.

Dengan menyewa perahu motor seharga Rp150.000, Dave pergi menuju resort yang dipesannya. Sebenarnya ada sekitar 20 resor yang tersebar di kawasan Kepulauan Togean dan untuk menuju ke resort yang dipesannya Dave harus berperahu selama 30 menit perjalanan.

Menurut Dave, dia disuguhi pemandangan dramatis tanjung pulau terbesar dan karst batu kapur, yang menurutnya menjulang seperti bidak catur raksasa. Padahal taman nasional ini merupakan jantung bagi segitiga karang dunia dengan luas 365,241 hektare, juga rumah bagi 262 jenis terumbu karang.

Sesampainya di resor, Dave melihat kondisi ruang makan dan ruangan 2 peralatan selam terlihat tidak cukup b Namun menurutnya, kamarnya cukup bersih dengan tempat tidur yang cukup nyaman. Dave juga menyayangkan sajian resor yang menurutnya tidak cukup baik.

Dave bertemu dan berbincang dengan tamu lain, Ned dan Tom dari Australia. Mereka menanggapi bagaimana layanan di resor tersebut. Meski ikut membandingkan dengan resor di tempat wisata lain yang menurut mereka memiliki pelayanan lebih baik.

Keesokan paginya, Dave mengambil salah satu perahu kecil di resor untuk mendayung di sekitar pulau. Salah satu petugas resor memperingatkan agar Dave tidak pergi ke daerah timur pulau karena keberadaan buaya di hutan bakau.

Namun, Dave justru mengkhawatirkan jika buaya di sekitar sana bisa berenang beberapa mil ke arah mana pun. Menurutnya, mendayung di sekitar tempat tersebut dapat mengancam dirinya.

 Ilustrasi

Dia mengaku membaca keluhan yang sama dari turis lain yang menginap di resor yang berbeda di Kepulauan Togean dalam situs Tripadvisor yang mengatakan, penduduk memberi makan buaya liar hanya 100 meter di belakang karang dekat rumah.

Dave kemudiwm melirik area terumbu karang yang disinggahi banyak pengunjung lainna untuk melakukan snorkeling. Dan area tersebut terlihat cukup aman untuk diselami Di bawah laut, ia melihat taman karang yang luas, dengan sebagian besar kondisinya yang tidak berwarna atau mati.

Selepas menyelam, Dave naik ke permukaan dan segera memutuskan untuk pindah ke resor lain meski sedikit lebih mahal. Di sana, ia merasa mendapat sajian yang lebih baik, walaupun tidak bisa tidur karena listrik dan kipas yang dimatikan saat malam hari.

Esok paginya, Dave memutuskan untuk menghentikan liburannya dan memesan perahu bersama beberapa turis lainnya untuk segera membawanya kembali ke Wakai.

"Kepulauan Togean terlihat seperti surga. Tetapi bagi saya, mereka terasa seperti neraka," pungkas Dave.

(Salman Mardira)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement