Melihat kekurangan ini, suku Baul percaya bahwa darah haid harus dicerna, ditukar, dan diserap kembali untuk mengisi kembali tubuh dan jiwa.
Mengutip dari Amuse, seorang wanita Baul bernama Tara mengenang efek meminum darah haid terhadap mereka yang mengikuti upacara itu.
“Seperti kekuatan ingatan dan konsentrasi meningkat, kulit menjadi bercahaya, suara menjadi merdu, dan seluruh makhluk dipenuhi dengan kebahagiaan, ketenangan, dan cinta.”

Selain menggunakan tampon sebagai teh celup, ada cara lain untuk menyebarkan empat bulan darah haid untuk mencapai efek yang sama.
Suku Baul percaya bahwa darah haid juga dapat tertelan melalui mulut penis pria. Ini disebut sebagai seks saat menstruasi.
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.