Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hobi Makan dan Jajan di Luar Rumah Jadi Pencetus Hipertensi?

Kevi Laras , Jurnalis-Kamis, 18 Mei 2023 |18:30 WIB
Hobi Makan dan Jajan di Luar Rumah Jadi Pencetus Hipertensi?
efek hobi makan di luar, (Foto: Freepik)
A
A
A

MAKAN atau jajan di luar, seperti di warteg, restoran, atau kafe jadi pilihan banyak orang yang notabene sibuk beraktivitas di luar rumah sehari-harinya. Mengingat ini adalah cara praktis untuk makan dan mengenyangkan perut, daripada harus masak lagi di rumah.

Bagi Anda yang lebih sering makan di luar, daripada makan masakan rumah, ada baiknya untuk waspada akan peluang hipertensi. Kok bisa? Disampaikan dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, hipertensi sejatinya terkait dengan kandungan garam yang dikonsumsi.

Nah makanan yang dimakan di luar rumah, lebih memungkinkan disajikan dengan kadar garam tinggi. Hal inilah yang tanpa disadari bisa jadi pencetus seseorang mengalami hipertensi karena hobi jajan atau makan di luar rumah.

"Fakta bahwa makan di luar rumah jadi salah satu risiko meningkatnya hipertensi. Umumnya mengandung banyak garam,  berhubungan erat dengan hipertensi," kata dr Tunggul dalam Konferensi Pers terkait Hari Hipertensi Sedunia di Jakarta, baru-baru ini.

Dijelaskan lebih lanjut, masyarakat juga harus mengetahui, seperti diungkap dr. Tunggul sebenarnya bukan hanya makanan asin yang tinggi garam. Nyatanya, makanan manis juga bisa mengandung garam tinggi di dalamnya.

“Menjadi masalah kita mengira yang terasa asin jadi sumber garam, padahal tidak. Jadi makannya dipilah, walaupun tidak terasa asin juga kandungannya cukup tinggi,” ungkapny

Dokter Tunggul menganjurkan, setiap orang agar bisa mengontrol asupan garam perharinya, yakini tidak lebih 2000 mg natrium atau 5 gram yang sama dengan 1 sendok teh saja.

“Baiknya agar semua makanan itu ditulis dan batasan harian kita jadi sangat ketat. Ini (hipertensi) masalah sangat besar, dampaknya, dan kematiannya. Penyakit ini dianggap tidak berbahaya karena tidak menular alias silent killer dan diperkirakan akan terus meningkat tahun ke tahun," jelas dr. Tunggul

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement