Kemudian pada 1992, banyak perusahaan di Jepang yang tidak lagi menyediakan fasilitas liburan mewah bagi para pekerja atau karyawannya. Sehingga membuat penduduk di Pulau Watakano jadi terkena imbasnya, yaitu sepi pengunjung.
Dikarenakan sepinya tamu yang datang ke Pulau Watakano, maka pekerja seks di kawasan tersebut satu persatu mulai memilih pindah dan mencari tamu yang ingin memakai jasanya di luar kota.

Imbas lainnya adalah para pemilik sewa kamar, karaoke, hingga kafe-kafe juga ikut sepi dan akhirnya bangkrut dengan sendirinya karena sudah tidak ada lagi tamu datang ke pulau tersebut.
(Salman Mardira)