PULAU Watakano atau Watakanojima di Jepang pernah berjaya sebagai destinasi wisata seks paling populer. Para turis datang menikmati ‘surga dunia’ dengan ditemani wanita-wanita pelayan birahi. Penduduk setempat meraup untung banyak.
Namun, kejayaan pada era-80 tahun tersebut meredup pada 1992 akibat pecahnya gelembung ekonomi di Jepang. Bisnis prostitusi yang melambungkan Watakano terpuruk. Fasilitas penginapan, karoeke, tempat hiburan bangkrut.
BACA JUGA:Menguak Sejarah dan Potensi Pulau Banda Jadi Destinasi Wisata Prioritas Nasional
Watakano kerap dinamakan Pulau Prostitusi karena hampir semua penduduknya menggantung hidup pada bisnis esek-esek. Sebagian besar jadi pelayan seks, sisanya meraup untung dari jualan kelontong, sewa penginapan, tempat hiburan, dan lainnya.
Mayoritas turis yang ada datang ke Watakano adalah para pekerja perusahaan yang mencari hiburan dan berburu syahwat.
Wisatawan yang datang ke Pulau Watakano akan langsung disambut oleh wanita-wanita cantik berpakaian seksi. Mereka mencoba mendekati, dan menawarkan dirinya untuk 'dipakai' dan dibayar sesuai tarif yang telah ditentukan.
BACA JUGA:6 Fakta Unik Pulau Paskah, Rumah Patung Moai yang Kerap Dijadikan Emoji
Dari hasil 'jual diri', pada era 80-an para wanita di pulau ini bisa meraih pundi-pundi uang sebesar 2 juta yen atau jika dirupiahkan kisaran Rp265 juta setiap bulannya.
Sementara itu bagi warga biasa atau tidak ikut 'menjual diri', tetap kecipratan keuntungannya lho. Mereka mengandalkan pemasukan dari toko kelontong, kedai dan apartemen yang disewakan untuk melakukan hubungan dewasa. Sehingga tak dipungkiri, penduduk di pulau ini dapat hidup makmur selama puluhan tahun lamanya.
Kemudian pada 1992, banyak perusahaan di Jepang yang tidak lagi menyediakan fasilitas liburan mewah bagi para pekerja atau karyawannya. Sehingga membuat penduduk di Pulau Watakano jadi terkena imbasnya, yaitu sepi pengunjung.
Dikarenakan sepinya tamu yang datang ke Pulau Watakano, maka pekerja seks di kawasan tersebut satu persatu mulai memilih pindah dan mencari tamu yang ingin memakai jasanya di luar kota.

Imbas lainnya adalah para pemilik sewa kamar, karaoke, hingga kafe-kafe juga ikut sepi dan akhirnya bangkrut dengan sendirinya karena sudah tidak ada lagi tamu datang ke pulau tersebut.
(Salman Mardira)