Karena tradisi “nyekar” di samping merupakan bentuk akulturasi dan model budaya keislaman pribumi, “nyekar” juga merupakan ajang merajut kembali akar historis serta merefleksikan masa depan.
Artinya, dengan “nyekar” yang dimaknai secara lebih mendalam, seseorang diharapkan dapat merefleksikan sisi-sisi historis eksistensinya, dari mana dia berasal serta bagaimana dia dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang yang dia datangi di maqbarahnya itu.
Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah “kembali” tersebut. Dan disinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud. (nia)
(Salman Mardira)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.