Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Asal Usul Tradisi Nyekar Sambut Bulan Suci Ramadan

Wilda Fajriah , Jurnalis-Sabtu, 26 Maret 2022 |14:05 WIB
Mengenal Asal Usul Tradisi Nyekar Sambut Bulan Suci Ramadan
Ilustrasi tradisi nyekar (dok. Freepik)
A
A
A

UMAT Islam punya tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Seperti bergotong royong membersihkan masjid, memperindah tempat tinggal, serta berdoa secara massal, dan juga ziarah kubur keluarga secara bersama dengan menabur bunga, atau lazim disebut dengan istilah “nyekar”.

Mengutip laman Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU JEPARA), tradisi nyekar muncul berkat akulturasi budaya Islam-Jawa-Hindu, yang mana dalam kepercayaan Jawa, roh adalah abadi dan selalu “pulang” menemui keluarga pada setiap bulan “Ruwah” (dalam kalender Islam disebut Sya’ban), Ruwah berasal dari kata “Arwah” bentuk plural dari “Ruh” yang berarti roh.

Sehingga, menurut kepercayaan ini, bulan Ruwah merupakan momentum untuk saling bertegur-sapa antara mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup. Hindu juga memiliki sapaan khas dengan roh nenek moyang dengan beragam sesaji, salah satunya adalah bunga (Jawa: sekar).

infografis

BACA JUGA:Termasuk Bali, Ini 10 Destinasi Wisata Paling Populer di Media Sosial

Kemudian dalam Islam, ziarah kubur merupakan hal yang sangat positif dilakukan sebagai wahana mengingat akan kematian. Sehingga, dari sisi ritual, tradisi “nyekar” ini merupakan hal yang sangat positif, di samping sebagai wahana memperkuat tali salaturrahmi “lintas-alam” juga menjadi sarana mempertebal keimanan akan kehidupan setelah dunia.

Interpretasi terhadap makna tradisi “nyekar” ini memang harus lebih produktif. “Nyekar” bukan hanya realitas dari praktik keagamaan atau kepercayaan, tetapi bahkan lebih luas dari itu, tradisi “nyekar” melibatkan ranah kebudayaan, sosial, bahkan ekonomi.

Karena tradisi “nyekar” di samping merupakan bentuk akulturasi dan model budaya keislaman pribumi, “nyekar” juga merupakan ajang merajut kembali akar historis serta merefleksikan masa depan.

Artinya, dengan “nyekar” yang dimaknai secara lebih mendalam, seseorang diharapkan dapat merefleksikan sisi-sisi historis eksistensinya, dari mana dia berasal serta bagaimana dia dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang yang dia datangi di maqbarahnya itu.

Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah “kembali” tersebut. Dan disinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud. (nia)

(Salman Mardira)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement