GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil mengunjungi Museum Tsunami Aceh di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh, Sabtu (25/12/2021). Kang Emil --sapaan akrabnya-- menangis saat memasuki ruangan Sumur Do’a.
Ridwan Kamil melakukan kunjungan kerjanya di Aceh hingga Senin nanti. Ia pun berkesempatan hadir dalam upacara mengenang 17 tahun tsunami Aceh pada, Minggu 26 Desember 2021.
Baca juga: Museum Tsunami Aceh, Karya Abadi Ridwan Kamil
Emil punya hubungan emosional dengan Aceh. Dia merupakan arsitek yang merancang Museum Tsunami pada 2007, sebelum jadi Wali Kota Bandung. Karya spektakulernya itu kini terkenal sampai ke penjuru dunia. Turis dari berbagai negara saban tahun berkunjung ke Museum Tsunami Aceh.
Dalam kunjungan ke Aceh kali ini, Ridwan Kamil ikut napak tilas ke Museum Tsunami yang didesainnya penuh filosofi dan emosial itu. Emil didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Bahkan, ketika memasuki sebuah ruangan Sumur Do'a, Emil meneteskan air mata. Diakuinya, ruangan tersebut paling memberikan kesan emosional di antara seluruh bagian museum.
Sumur Do'a sendiri merupakan bangunan yang menjulang tinggi yang berisi nama-nama korban tsunami Aceh yang di bagian atasnya terdapat lafaz Allah.
Dengan pencahayaan yang temaram, siapapun yang masuk ruangan itu bisa merenungi sekaligus mendoakan ratusan ribu warga Aceh yang meninggal dunia akibat tersapu tsunami.
Baca juga: 15 Wisata Pantai di Aceh, Pemandangannya Eksotis
"Dari semua bagian museum, ini adalah ruangan yang paling emosional buat saya," ungkap Kang Emil sambil meneteskan air mata.
"Ini tempat kita berdoa untuk korban-korban tsunami dan di atas ada lafaz Allah, artinya apapun yang terjadi harus tawakal," sambung dia.
Kang Emil pun mengakui, dalam proses penciptaan rancang bangun Museum Tsunami Aceh, dia banyak meneteskan air mata, termasuk saat mempresentasikan hasil rancangannya saat sayembara.
Baca juga: Ridwan Kamil Berlinang Air Mata saat Mendesain Museum Tsunami
"Saya banyak meneteskan air mata dalam proses sketsanya, termasuk dalam proses presentasinya pun saya terbata-bata karena ratusan ribu nyawa melayang akibat tsunami Aceh," ungkapnya.
Lebih lanjut Kang Emil mengatakan bahwa proses penciptaan Museum Tsunami Aceh merupakan akumulasi dari memori yang terekam dari peristiwa tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 silam itu.
"Prosesnya (rancang bangun) sekitar sebulan, tapi proses pencarian cukup intens, mencari cara sederhana agar masyarakat bisa merasakan langsung peristiwa itu, seperti ketakutan, basah, gelap, dan lainnya," tuturnya.