Sebuah Kerja Sama yang Berhasil
Sama seperti usaha batik peranakan lainnya, tanpa keberadaan pembatik, usaha batik tak akan pernah lestari. Rektor Universitas Ciputra Surabaya dan seorang peneliti batik Yohannes Somawiharja mengatakan batik tulis halus bukan hanya selembar kain, tapi lambang kerja sama yang erat antara warga Tionghoa dan penduduk Jawa.
"Batik tulis halus adalah gabungan antara keterampilan tangan yang sangat tinggi oleh para perajin batik, yang umumnya para perempuan Jawa yang sudah berpengalaman belasan bahkan puluhan tahun."
"Juga, disiplin pengorganisasian kerja yang luar biasa dalam mendesain pola, menjalankan usaha, dan penjualan. Zaman dulu, ini dilakukan oleh para keturunan Tionghoa sebagai pemilik perusahaan batiknya," kata Yohannes.
Ia mengutip berbagai literatur yang menjelaskan bahwa keterlibatan Tionghoa pada bisnis batik dimulai pada awal abad-19, dengan berperan sebagai penjual kain keliling. Kemudian pada sekitar tahun 1870, orang-orang Tionghoa ini mulai menjadi produsen batik.
Dimulai dari pembuatan pola-pola Jawa, mereka lalu membuat pola kombinasi Belanda-Tionghoa, lalu kombinasi Tionghoa-Jawa. Saat itu, kebanyakan pengusaha batik adalah keturunan Tionghoa, sementara pembatik adalah mereka yang asli Jawa.
"Tampaknya ini adalah sebuah sinergi partnership (kemitraan) yang berhasil, memadukan kelebihan-kelebihan kedua belah pihak. Hasilnya adalah sebuah produk seni fesyen yang luar biasa indah," ujar Yohannes.

Keberadaan para pembatik jugalah yang membuat nama Batik Oey melegenda. Kebanyakan dari mereka bekerja turun temurun. Kustinah (49) misalnya adalah pembatik generasi kedua di Batik Oey yang sudah belajar membatik dari usia 17 tahun. Sebelumnya, neneknya adalah pembatik di tempat yang sama.
"Saat nenek saya berangkat kerja, saya ikut karena ingin belajar. Setelah itu, saya belajar sendiri, mengembangkan diri sendiri," ujar Kustinah dalam bahasa Jawa.
Kustinah adalah sosok di balik indahnya bunga dan motif 'semarangan' yang terlihat dalam batik-batik Oey. Canting yang digunakan adalah yang terkecil atau canting "nol".
Seorang pembatik bisa mengabiskan waktu yang panjang untuk memberi sebuah bentuk titik sempurna pada sehelai kain. Pembatik yang bagus membuat titik, tidak bertugas menggambar bunga atau daun, dan sebaliknya. Maka itu, tak semua orang bisa membuat batik seperti itu, ujar Kustinah.
"Harus sabar, kalau tidak sabar, tidak bisa," ujarnya.
Bagi pembatik Oey pun hubungan yang terjalin sudah melampaui karyawan dan atasan."Sudah seperti keluarga saya sendiri," kata Marliah (56) seorang pembatik.
Meski tuntutan standar sangat tinggi, Marliah mengatakan ia selalu dibebaskan mengatur waktunya sendiri dalam menyelesaikan tugas. "Kalau saya capek ya berhenti. Kalau saya enggak capek membatik terus," ujarnya.
Kerja sama itu pun tergambar dalam motif-motif batik peranakan. Dalam hal Batik Oey, ada kain yang disebut "Pagi Sore", yakni satu kain yang memiliki dua motif.
Salah satunya motif Jawa, yakni cuwiri merak hati, yang berpadu dengan motif bunga mawar dan warna-warna peranakan.