Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

HUT Ke-76 RI, Mengenal Batik Tulis Peranakan Simbol Hubungan Erat Tionghoa-Jawa

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 17 Agustus 2021 |07:18 WIB
HUT Ke-76 RI, Mengenal Batik Tulis Peranakan Simbol Hubungan Erat Tionghoa-Jawa
Batik tulis peranakan Oey Soe Tjun di Pekalongan. (Foto: BBC)
A
A
A

Di Ambang Kepunahan

Meski demikian, sudah lima tahun belakangan ini, Widia hanya berkerja dengan sistem pesanan karena ia memilih bekerja tanpa tekanan. Ia pun yakin, nasib usaha batik itu usai dalam satu dekade ke depan.

Salah satu alasannya adalah karena kondisi fisiknya yang menurun. Ia pernah jatuh saat mencuci batik dan sejak saat itu kondisi tulangnya tak pernah benar-benar pulih. Matanya pun kian tak awas.

Sementara itu, kedua putranya belum menunjukkan minat mereka pada usaha batik. "Sudah kayak orang jantungan, sudah tinggal napas terakhir," ujarnya tentang masa depan usaha batik tulis itu.

Faktor lainnya adalah para pembatik yang semakin tua dan tanpa penerus. Ia menetapkan standar yang sangat tinggi untuk para pembatik, yang membuatnya sulit menemukan pengganti.

Dari segi pembatik pun, batik tulis halus tak lagi populer. Kustinah, misalnya mengatakan anak-anaknya tak mau meneruskan menjadi pembatik.

"Anak saya yang kecil disuruh melanjutkan, enggak mau. Bilangnya 'kotor, malas'... 'Netes' terus."

"Sementara anak saya yang besar, enggak bisa, sudah diajari. Bisa (membatik), tapi tidak baik (kualitasnya)," ujar dia.

Batik tulis peranakan Oey Soe Tjun di Pekalongan. (Foto: BBC)

Meski bermimpi terus membatik, salah satunya agar bisa terus mandiri secara finansial, Kustinah berusaha realistis.

"Ya kalau sudah enggak bisa, enggak apa-apa. Kalau masih bisa ya kepenginnya membatik terus," ujarnya.

Tanpa pembatik andal, Widia sulit membayangkan nasib usaha itu. Bahkan, jika putranya mau meneruskan bisnis itu, ia tak akan mengizinkannya membawa bendera Oey, tanpa kualitas setara.

"Boleh usaha batik, tapi jangan pakai nama Oey Soe Tjoen kalau kualitasnya tidak bisa sama," ujarnya.

"Makanya dengan prediksi seperti itu, saya bisa mengatakan bahwa batik tulis halus Oey Soe Tjoen bisa habis atau bisa punah dalam waktu 10 tahun ke depan karena saya tahu kondisi saya," kata Widia.

Yohannes Somawiharja menilai sudah ada upaya pemerintah untuk mempertahankan usaha seperti ini, seperti dengan pemberian penghargaan dan modal. Ada juga usaha serupa yang berusaha bertahan dengan menjual batik yang lebih murah.

"Namun sayangnya upaya yang terkoordinasi masih belum dilihat oleh pengusaha batik sebagai sesuatu yang attractive (menarik) dan meringankan risiko."

"Entah ini menjadi tugas siapa. Jika masalah ini tidak terselesaikan dengan efektif, saya khawatir kita tidak akan bisa mempertahankan batik peranakan tulis halus lagi," ujarnya.

Padahal, kata Yohannes, batik tulis adalah salah satu produk kebanggaan Indonesia.

"Batik tulis halus adalah adibusana mahakarya bangsa Indonesia. Tidak ada di tempat lain di dunia ini yang memproduksi produk batik se-bagus yang dari Indonesia. Ini tentunya menciptakan sense of identity, kebanggaan nasional."

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement