Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Lebih Dekat Kampung Takpala, Warisan Budaya Leluhur di Alor

Antara , Jurnalis-Selasa, 03 Agustus 2021 |12:04 WIB
Mengenal Lebih Dekat Kampung Takpala, Warisan Budaya Leluhur di Alor
Kampung Takpala, Alor, NTT (Foto: Antara)
A
A
A

Rumah adat ini terbilang unik, karena terdapat empat tingkatan di dalam tiap rumah adat ini. Tingkat pertama atau yang biasa disebut Liktaha adalah tempat untuk menerima tamu atau berkumpul bersama.

Tingkat dua, biasa disebut Fala Homi, yakni ruang tidur dan ruang untuk masak. Tingkat tiga adalah Akui Foka yakni tempat untuk menyimpan cadangan bahan makanan, seperti jagung dan ubi kayu.

Sementara tingkatan paling atas disebut Akui Kiding, yakni tempat untuk menyimpan mahar dan barang berharga seperti Moko.

Moko merupakan barang berharga di Pulau Alor, terbuat dari tembikar dan biasanya digunakan sebagai belis atau mahar perkawinan. Satu buah Moko bernilai sangat fantastis, sehingga sering dikatakan satu buah Moko mampu meminang tiga orang anak gadis.

Di antara 13 Rumah Fala Foka, terdapat 2 rumah adat yang memiliki ukuran sedikit lebih kecil dari pada ukuran rumah Fala Foka. Namun, meski memiliki ukuran lebih kecil, dua rumah adat yang biasa disebut Lopo ini memiliki tingkat kesucian lebih tinggi dibandingkan rumah Fala Foka.

Dari segi bentuk, Rumah Lopo memiliki dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan ditopang oleh enam buah kayu merah. Pada atap rumah terdapat sebuah mahkota yang menandai kesakralan dua bangunan ini. Rumah Lopo memiliki dua jenis, yakni Kolwat dan Kanuruat.

Perlakuan terhadap dua rumah adat ini juga pun berbeda. Kolwat yang memiliki arti perempuan, memiliki ciri dinding didominasi oleh warna putih dan bisa dimasuki oleh semua warga kampung.

Sementara Kanuruat yang memiliki arti laki-laki, berdinding corak kehitaman dan hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu saja seperti Tua adat. Setiap satu tahun sekali, pintu Rumah Kanuruat akan dibuka untuk kepentingan ritual adat dan hanya bisa dibuka oleh Tua Adat melalui proses ritual adat pula.

Di depan rumah adat Kolwat dan Kanuruat, terdapat sebuah susunan batu yang dibuat melingkar yang biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda sakral seperti Moko, Gong atau peralatan berburu saat melakukan ritual adat.

Jika berkunjung ke Kampung Takpala, selalu ada penyambutan dengan tarian adat yang disebut tarian lego-lego. Saat pementasan tarian ini, semua warga yang menghuni kampung ini akan mengenakan pakaian adat yang disertai dengan ornamen seperti panah dan busur serta parang bagi pria dan tas fuulak serta gelang pada kedua kaki bagi wanita.

Ati menambahkan,ada hal menarik ketika wisatawan berkunjung ke kampung Takpala, karena wisatawan diperbolehkan untuk berfoto dengan menggunakan pakaian adat Kampung Takpala beserta dengan setiap atribut yang dimiliki baik itu busur, anak panah, tombak, tas kamol dan pedang bagi pria atau kain tenun, selendang dan tas fu’ulak bagi pengunjung wanita. Ada biayanya, tetapi itu tergantung kesepakatan antara wisatawan dengan pemilik pakaian.

Ati menceritakan, saat menyambut wisatawan biasanya jenis tarian yang digunakan adalah tarian Lego Luh, dilanjutkan dengan tarian perang yang disebut lego cakalele dokak yang diperagakan dua pria dewasa sambil memegang busur dan anak panah serta pedang yang seolah-olah hendak bertarung.

Serta tarian penutup yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, wisatawan akan diijinkan untuk bergabung dalam tarian ini sambil bergandengan tangan berputar mengelilingi Batu Mesbah.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement