Walaupun dia tahu ujiannya sudah terjadi, tidak bisa diubah lagi, dia tetap berdoa, shalawatan, 'kencengin jalur langit'. "Malahan saya sudah kepikiran worst case-nya, yaitu gap year, sudah di tahap ikhlas gitulah. Rencananya nanti mau bantu ibu, terus saya jualan Boba sama buka olshop gitu sambil belajar buat UTBK tahun depan," ucap Puput di tengah kepasrahannya.
Ternyata Allah ngasih yang lebih baik. Ya, nilai ujian keluar dan Puput tak menyangka bisa meraih apa yang diinginkannya. "Saya lolos di FK UGM, enggak percaya banget waktu itu, kayak mimpi gitulah. Buka pengumumannya juga pas mau Magrib, kalo gagal saya mau langsung tidur sambil nangis," ujarnya.
"Emang benar, kalau sudah ikhlas dan pasrah, Allah bakalan ngasih apa yang kita mau. Enggak jadi jualan Boba deh," katanya diakhiri dengan tawa ringan.
Puput si anak penjual gado-gado itu mengaku amat bahagia dengan apa yang dia capai ini. Sang ibu pun teramat bangga dengannya, terlebih di keluarganya belum ada satu orang pun yang masuk jurusan kedokteran.

"Kalau ditanya apakah bahagia, sudah pasti bahagia. Akhirnya bisa bikin bangga ibu dan keluarga. Orangtuaku enggak kepikiran aku bisa lolos di FK UGM ini, karena di keluarga enggak ada yang jadi dokter. Enggak muluk-muluk istilahnya, lolos di UGM saja sudah senang kata ibu. Alhamdulillah," ujar Puput bangga akan dirinya.
Puput yang juga ngefans dengan Day6 itu pun menyelipkan pesan untuk teman-teman di luar sana yang punya cerita hidup kurang lebih sama yaitu berasal dari keluarga sederhana.
"Dulu, aku juga kayak yang lain, sering envy lihat hidup orang lain kok kayaknya enak, privileged, gampang banget buat dapetin sesuatu. Sampai akhirnya aku sadar kalau privilege itu enggak selalu tentang ekonomi yang serba berkecukupan," terangnya.
Ia melanjutkan, seseorang memang kerap diberi cobaan dan ujian. Tapi, ketika daya juang kita tinggi, maka kita akan menjadi lebih kuat, juga lebih menghargai sesama karena pernah merasakan enggak enaknya hidup. "Don't ever giving up, semua perjuangan kita akan dibalas manis pada waktunya, tetap sabar dan positive thinking walaupun realita kadang menyakiti," ujarnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)