Sebagaimana tulisan Grafland menyebutkan, di Manado terdapat gereja panggung yang terbuat dari kayu, beratapkan sirap, lokasinya tidak Jauh dari benteng berdekatan dengan penjara dan disampingnya terdapat waruga dan persekolahan. Maka yang dimaksudkan dengan bangunan tersebut adalah GBM (de Groote Kerk- gereja besar) atau yang kita kenal sekarang Gereja Sentrum Manado. Gereja tersebut memiliki lahan yang luas dan berada di pusat Manado. Sehingga Gereja Sentrum dijadikan landroad atau patokan 0 (zero point) kilo meter untuk perhitungan jarak ke daerah yang lain.
"Seiak tahun 1934 Gereja Protestan yang berada di Manado, Minahasa, Bitung dinyatakan berdiri sendiri dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) dengan sebutan Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), tepatnya pada tanggal 30 September," ujar Pdt. Florence Monigir-Laoh, M.Th.

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Gereja Besar Manado pemah menjadi markas/pusat dari Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK) yang dipimpin oleh pendeta Jepang Hamasaki. Tapi sayang sekali gedung GBM yang begitu sarat nilai historis dan religius ini hancur karena bom oleh sekutu. Maka diberi tanda prasastinya didirikan Tugu Perang Dunia ll, yang berada di sebelah kiri bangunan gereja yang hancur. Tugu tersebut sampai sekarang ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu situs wisata sejarah.
Pada tahun 1952, Gereja Sentrum didirikan kembali di lokasi gereja saat ini, dibangun dalam bentuk permanen, seperti yang ada saat ini dan ditahbiskan 10 Oktober 1952.