Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tugu dan Gereja GMIM Sentrum, Saksi Sejarah Perang Dunia ke-2 di Manado

Subhan Sabu , Jurnalis-Sabtu, 22 Mei 2021 |22:00 WIB
Tugu dan Gereja GMIM Sentrum, Saksi Sejarah Perang Dunia ke-2 di Manado
Gereja GMIM (Foto: Subhan/Okezone)
A
A
A

MANADO - Tugu peringatan ini adalah momen perang dunia ke-2 dan didirikan pada tahun 1946 sampai 1947 oleh sekutu dengan arsiteknya Ir. C. J. Uit den Bosch, dari Belanda. Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap Perang Pasifikbsemasa perang dunia ke-2 pada 1946 sampai dengan 1947.

Tinggi tugu kurang lebih 40 meter yang terdiri dari 4 buah tiang penyangga dengan sebuah kubus 4 persegi menandakan bahwa ada ikatan-ikatan yang sangat kuat yang tidak mudah di digoyang.

Tugu peringatan ini sampai sekarang begitu banyak dikunjungi orang-orang baik dari daerah atau dari luar negeri. Mereka melihat Tugu peringatan ini sebagai momen ketika sejarah perang dunia ke-2 Jepang menguasai sekutu.

Di samping tugu terdapat bangunan bersejarah yang tidak kalah pentingnya juga yakni Gereja GMIM Sentrum Manado. Pada tahun 1675, Ds Montanus, seorang pendeta Belanda untuk pertama kali mengunjungi Manado. Dalam kunjungannya, Montanus mengetahui di Manado sudah ada sekelompok orang Kristen.

Baca Juga:

Sandiaga Uno Buktikan Pendekatan Parekraf Tingkatkan Nilai Jual Ekonomi Kearifan Lokal

Jelajah Keindahan Indonesia dengan Sandiaga Uno "Pride of Indonesia" di iNews Setiap Sabtu Pukul 18.00 WIB

Ketua BPMJ Sentrum Manado, Pdt. Florence Monigir-Laoh, M.Th mengatakan data-data sejarah menyebutkan bahwa pemukiman pertama di Manado dimulai saat pembangunan Benteng Pertahanan VOC Belanda Benteng bernama Fort Nieuw Amsterdam (Port Amsterdam Baru) yang didirikan atas prakarsa Pemerintah Hindia Belanda.

"Dahulu benteng ini berada di belakang Taman Kesatuan Bangsa (TKB), depan Jumbo Supermarket sekarang. Saat itu diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Robertus Padtbrugge. Sayang, benteng ini hancur saat penyerangan Tentara Sekutu ke Manado di tahun 1944," kata Ketua BPMJ Sentrum Manado, Pdt. Florence Monigir-Laoh, M.Th kepada MNC Portal Indonesia, Sabtu (22/5/2021).

Bersamaan dengan dimulainya pembangunan benteng, atas izin Kepala Walak Ares Belanda mendirikan perkampungan di daerah samping benteng. Jika melihat posisi kota saat ini, kawasan perkampungan Belanda berbentuk empat persegi yang dibatasi jalan raya mulai dari Jalan Dotu Lolong Lasut, Jalan Sarapung, Jalan Korengkeng, dan Jalan Sam Ratulangi.

Dahulu, kompleks perumahan itu disebut firkante palsn (empat persegi). Berdiri di kawasan ini, rumah residen Manado, rumah pejabat-pejabat Belanda dan penduduk keturunan Belanda. Gereja Sentrum Manado (sekarang ini) merupakan salah satu peninggalan zaman tersebut yang dibangun hampir bersamaan dengan benteng Fort Amsterdam. Gereja Sentrum dibangun sebagai sarana beribadah jemaat Kristen di perkampungan Belanda tersebut

"Untuk melayani jemaat yang bermukim di kompleks firkante pallen, atas permintaan Ds. Montanus, maka pemerintahan VOC pada tahun 1677 menempatkan seorang pendeta Belanda di Manado yang bernama Pendeta Zacharias Cohen. Selama berada di Manado ia mengabdikan dirinya bagi warga. Dari sinilah kemudian jemaat berkembang pesat dan gereja tersebut diberi nama de Groote Kerk atau Gereja Besar Manado disingkat GBM," tutur Pdt. Florence Monigir-Laoh, M.Th

Sejarah mencatat bahwa perkembangan kekristenan menyebar luas dari pelayanan dan penginjilan Gereja Besar Manado, yaitu pertumbuhan jemaat-jemaat lain di tanah Minahasa seperti Tanawangko, Airmadidi, Kema dan lain-lain. Pdt. Cohen juga yang berinisiatif mengirimkan tenaga-tenaga untuk menyebarkan injil ke Bolaang Mongondow. Dapat dikatakan dari sinilah awal pekabaran Injil di tanah Minahasa.

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan VOC, maka perkembangan kekristenan di tanah Minahasa dan penanganan terhadap gereja menjadi urusan Pemerintah Belanda. Gereja kemudian memakai nama Indische Kerk (Gereja Protestan Indonesia). Pada masa itu, pelayanan penginjilan serta administrasi gereja berpusat di Manado.

Hal ini diatur berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Indische Kerk pada waktu itu, bahwa semua pendeta pembantu (inlandsehe lehraar), semua pendeta yang bekerja di Minahasa berada di bawah pimpinan Pendeta Belanda. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya data register nikah dan baptisan jemaat-jemaat di Manado, Minahasa, bahkan sampai Sangihe dan Talaud, semuanya disimpan di Gereja Besar Manado de Groote Kerk (Gereja Sentrum Manado sekarang).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement