Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ragam Tradisi Sambut Ramadan di Nusantara, Dugderan hingga Nyorog

Natalia Christine , Jurnalis-Senin, 12 April 2021 |03:10 WIB
Ragam Tradisi Sambut Ramadan di Nusantara, Dugderan hingga Nyorog
Tradisi ziarah kubro di Palembang jelang bulan Ramadan (Foto: Instagram/@baka.neko.baka)
A
A
A

DALAM rangka menyambut bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia memiliki berbagai cara dan tradisi masing-masing. Setiap daerah memiliki cara dan tradisi yang berbeda beda. Berikut macam macam tradisi asal daerah yang telah dirangkum Okezone dari berbagai sumber :

Ziarah Kubro

Ziarah kubro dalam bahasa Indonesia memiliki arti ziarah kubur. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Palembang dengan melakukan kegiatan berziarah massal ke makam makam para ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam yang dikenal dengan istilah waliyullah. Kegiatan ini dilakukan seminggu sebelum Ramadhan yang berlangsung selama tiga hari berturut turut.

Dugderan

Dudgeran merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh masyarakat Semarang, Jawa Tengah menjelang datangnya bulan Ramadan. Dugderan berasal dari kata dugder yaitu dug yang memiliki arti bunyi bedug yang ditabuh dan der ialah bunyi tembakan meriam.

Tradisi Dugderan

(Foto: Instagram/@donnyandirraphotography)

Upacara ini merupakan perpaduan dari tiga etnis yaitu Jawa, Tionghoa, dan Arab. Menurut sejarah, tradisi dudgeran telah berlangsung sejak tahun 1881. Sebelum memukul bedug dan menyalakan meriam, upacara digelar di halaman pendopo kabupaten.

Kemudian diikuti dengan pedagang yang menjajakan dagangannya yang beraneka ragam seperti minuman, makanan, mainan anak anak seperti perahu perahuan, celengan, seruling dan gangsing.

Meugang

Meugang merupakan tradisi membeli daging, memasak, dan menikmatinya bersama keluarga maupun kerabat dekat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Aceh. Daging yang dikelola dapat berupa daging sapi maupun daging kerbau.

Daging identik dengan Meugang

(Foto: Instagram/@sweetarmel)

Menjelang Ramadan, para pedagang daging sapi maupun kerbau akan membanjiri pasar hingga pinggir pinggir jalan Aceh. Pembeli tidak hanya didominasi oleh kaum perempuan saja, tetapi kaum laki laki juga ikut membeli daging yang ada di pasar.

Uniknya, para pembeli tidak akan melakukan tawar menawar pada hari tersebut. Harga daging yang dijual berdasarkan kemauan para pedagang.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement