Nah, jika pertanyaannya sekarang apakah beda teknik trauma healing untuk anak-anak dengan orang dewasa, Mei menjelaskan, tentu proses trauma healing pada anak-anak akan lebih sulit, karena psikolog tidak tahu seberapa dalam trauma yang dialami. "Ini karena anak-anak kadang sulit menyampaikan apa yang dia rasakan dan tidak terlihat," sambung Mei.
Soal tekniknya, tentu untuk anak-anak dan orang dewasa itu berbeda. Jadi, kalau untuk anak-anak biasanya akan dibuat 'fun' seperti play terapi, menggambar, dan melakukan hal-hal yang membuat mereka gembira. Kata Mei, itu dilakukan untuk stabilisasi.

Sementara itu, trauma healing untuk orang dewasa bisa dengan konseling atau salah satu teknik dalam psikotraumatologi ialah dengan maksud stabilisasi, kemudian membantu memproses ingatan traumatik tersebut.
"Sebagai seorang psikolog, jika menghadapi kasus saksi mata pembunuhan, maka biasanya saya akan mengajak individu tersebut menghadapi peristiwa traumanya dengan menguatkan resource yang dimiliki, bukan menghindari masalah tersebut. Tentu dengan tahapan dalam teknik psikotraumatologi itu sendiri," tutur Mei.
(Helmi Ade Saputra)