Mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa Hannah Al Rashid adalah 'Kartini Masa Kini'. Namun, label tersebut patut diberikan kepadanya karena aktris ini berani menyuarakan masalah yang biasanya hanya akan jadi obrolan lalu; pelecehan seksual.
Masih ingat dengan unggahan Hannah Al Rashid di Twitter ketika dirinya mengikuti #WomensMarchJKT? Di sana Hannah membentangkan kertas putih yang bertuliskan keresahannya di industri film.
"Lokasi shooting yang paling ideal? 1. No nyamuk. 2. No kecoa. 3. No lelaki yang tangannya kemana-mana. #stopdefendingTHEMSTARTPROTECTINGUS #SinematikGakHarusToxic." Begitu tulisan yang coba disuarakan Hannah di secarik kertas.
To all my sisters in the industry who don’t feel safe on set, who are hesitant to report harassment, who are afraid they will be doubted...we stand with you, we believe you.
— Hannah Al Rashid (@HannahAlrashid) March 8, 2020
To all the predators on set...step very carefully, we have our eyes on you. #IWD2020 #WomensMarchJKT pic.twitter.com/F846GGC5Kr
Dalam keterangan foto, Hannah pun menuliskan kalimat yang cukup berani. Begini bunyinya di artikan dalam bahasa Indonesia.
"Kepada semua perempuan di industri perfilman yang tidak merasa aman di lokasi syuting, yang ragu untuk melaporkan kasus pelecehan, yang takut mereka akan meragukanmu, kami mendukung Anda, kami percaya Anda.
Kepada semua pemangsa di lokasi, melangkahlah dengan hati-hati karena kami memperhatikan Anda," tulis Hanna. Unggahan ini disukai lebih dari 24,3 ribu netizen dan dibagikan ulang hampir 10 ribu kali.
Hannah Al Rashid memang sangat vokal dalam urusan pelecahan seksual. Mengemban amanah sebagai SDG (Sustainable Development Goals) PBB dalam bidang kesetaraan gender di Indonesia, tentu membuat dirinya punya ruang untuk menggunakan 'power' tersebut dan bertanggung jawab pada tugas ini.
Karena itu, Hannah sepertinya tak pernah bosan untuk mengajak para perempuan yang merasa haknya hilang, tak bisa menikmati hidup yang sejahtera karena dianggap tak bisa melakukan apapun, atau mendapat pelecehan untuk mau bersuara. Bertindak, karena dirinya ada bersama kelompok ini.
"Saya merasa dari dulu bisa menyuarakan opini saya dan gak takut dianggap bawel. Saya berhak menyuarakan apapun yang diinginkan saya," katanya dengan berani dalam sesi meeting virtual di acara SHE@Tokopedia Bahas Kesetaraan Gender, Rabu (22/4/2020).