Anggotanya adalah penerima beasiswa yang sama. Niat awal didirikannya dongeng keliling adalah mendongeng untuk siapapun dan dimanapun. Sasaran awal memang anak-anak. Mereka dianggap sebagai generasi yang wajib menerima dongeng sebagai asupan sehari-hari.
Menurut Nadia teknologi yang berkembang saat ini sudah menggeser keberadaan cerita-cerita rakyat yang harusnya bisa menjadi nilai kebudayaan yang bisa dilestarikan kepada generasi muda-muda kita. Namun sayangnya kini orang tua lebih memilih memberikan gadget kepada anak sebagai hiburan.
Gadget memang hadir untuk mempermudah aktivitas manusia, namun dalam perjalanannya Menurut nadia gadget memberikan beberapa dampak negatif, salah satunya membuat anak menjadi apatis yaitu dewasa sebelum waktunya, membuat anak kurang memiliki kesopanan yang lebih tua.
“Tidak sedikit dari orang tua lebih memilih memberikan gadget terhadap anaknya dengan alasan agar anaknya bisa diam dan tak menangis”ujar Nadia.
Dari kegelisahan yang Nadia amati selama ini terhadap lingkungan anak-anak yang kini membuat cemas, Nadia berinisitif mendirikan “Doing Project” yaitu Komunitas Dongeng keliling.
Dongeng keliling project merupakan solusi yang ditawarkan Nadia La Tsaniya. “Doing Project adalah program social yang concern dengan secara konsisten menggelar berbagai kegiatan seperti belajar dan sharing dongeng bersama, workshop dongeng, dan dongeng keliling “ ujar wanita kelahiran 1996 itu.