Bencana banjir besar dan tanah longsor yang melanda kawasan Jabodetabek masih menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan telah mencetuskan upaya mitigas bencana dengan penanaman vetiver atau akar wangi di daerah rawan bencana longsor.
Hal ini menyusul terjadinya bencana longsor di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun benarkan penanaman vetiver bisa menjadi solusi terbaik untuk mengantisipasi bencana susulan?
Menurut dosen IPB University dari Fakultas Kehutanan, Dr Irdika Mansur, penanaman vetiver perlu dilakukan, namun dengan teknik agroforestri yaitu, sistem penggunaan lahan (usahatani) yang mengombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian. Melalui metode ini dipercaya dapat meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan.

Kendati demikian, pemilihan jenis tanaman dan teknik budidayanya pun harus diperhatikan. Pasalnya, dengan melakukan teknik budidaya yang tepat dapat, maka risiko terjadinya erosi, longsor, dan banjir pun akan menurun.
Bicara soal wacana budidaya tanaman atsiri, ada beberapa tanaman yang bisa ditanam secara agroforestri dan dikombinasikan dengan vetiver yaitu kayu putih, kenanga, pala dan sereh wangi. "Kombinasi ini dapat mengurangi erosi secara signifikan, sehingga dapat mencegah bahaya banjir dan longsor,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Minggu (12/1/2020).