Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Selain Vetiver, Ini 4 Tanaman yang Bisa Cegah Banjir dan Tanah Longsor

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Minggu, 12 Januari 2020 |19:00 WIB
Selain Vetiver, Ini 4 Tanaman yang Bisa Cegah Banjir dan Tanah Longsor
Sereh wangi (Foto : Mercadolibre)
A
A
A

Dokter Irdina Mansur menambahkan, tak hanya mencegah bencana, daun kayu juga dapat dipanen empat tahun setelah tanam kemudian disuling untuk menghasilkan minyak kayu putih.

Lalu ada pohon kenanga yang mulai berbunga dua sampai empat tahun setelah tanam. Bunganya bisa dipanen dan disuling menghasilkan minyak kenanga (bahan parfum yang mahal).

Kenanga

Tak hanya itu, pohon pala yang selama ini sangat dikenal oleh masyarakat Bogor juga mendatangkan manfaat serupa. Bijinya dapat dijual langsung atau diambil minyaknya, daging buahnya untuk minuman atau manisan. Durasi penanaman hanya membutuhkan waktu sekira lima tahun untuk mulai berbuah.

Selanjutnya ada sereh wangi. Tanaman ini bisa dipanen daunnya mulai enam bulan setelah tanam, panen selanjutnya tiga bulan sekali.

Sama seperti daun kayu dan pohon kenanga, daun sereh wangi juga bisa disuling untuk menghasilkan minyak sereh wangi. Sementara limbah penyulingannya dapat digunakan untuk media produksi jamur pangan, seperti jamur tiram dan jamur merang. Limbah daun sereh wangi juga dapat dijadikan pakan ternak.

Sereh Wangi

“Sereh wangi tidak memiliki perakaran yang dalam, oleh karena itu untuk penguatan lereng perlu ditanam jalur vertiver (akar wangi) sejajar kontur. Rumput vertiver rimbun dan berakar dalam. Sereh wangi ditanam di antara jalur-jalur vertiver tersebut. Di jalur vertiver juga bisa ditanam kaliandra, kayunya dipanen untuk menyuling tanaman atsiri, daunnya untuk pakan ternak dan bunga kaliandra untuk mendukung budidaya lebah madu,” jelasnya.

Tanaman-tanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah yang intensif. Sedangkan harga minyak-minyak atsiri yang dihasilkan sangat mahal dan merupakan komoditas ekspor. Oleh karena itu, penanaman tanaman-tanaman atsiri dapat mengembangkan daerah pasca bencana banjir dan longsor menjadi tujuan wisata aromatik atau wisata atsiri.

“Wisatawan dapat berswafoto, panen daun atau bunga, menyuling minyaknya atau meramu parfum dari beberapa minyak atsiri alami tersebut. Budidaya tanaman atsiri dengan pola agroforestri akan membuat alam lebih tenang karena pada musim hujan, air hujan meresap ke tanah secara alami dan di musim kemarau sumur-sumur dan sungai tetap berair. Budidaya tanaman atsiri juga memberi pendapatan yang tinggi kepada petani. Alam tenang, petani pun senang,” tandasnya.

(Helmi Ade Saputra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement