Gentha merasa lebih nyaman melakukan berbagai hal seorang diri. Selepas jam kerja, ia memilih untuk langsung pulang ke kos menonton anime dan mendengarkan musik favoritnya.
"Mungkin bisa dibilang gue orangnya introvert. Kalau enggak salah bulan ke-9, gue bilang ke manager kalau gue udah satu tahun enggak naik ke bar, gue mau resign," ungkap Gentha.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Impian Gentha untuk meracik minuman pun akhirnya terkabul. Tepat satu tahun Gentha bekerja, ia dipercaya untuk mengambil alih bar.
Mengingat tugas seorang bartender tidak hanya meracik minuman, namun juga harus membuat customer nyaman, Gentha pun mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.
"Gue mikir pas udah di bar masa iya kok gini terus. Pekerjaan ini kan harus riang karena tugas kita menyambut tamu dan membuat mereka nyaman. Dari situ gue belajar untuk ngekos bareng sama temen. Ternyata, oh gini loh rasanya punya teman. Ada rasa kangen seperti di rumah. Jadi gue punya tujuan baru untuk pulang, yaitu bercengkerama dengan temen gue," jelasnya.
Suka duka menjadi bartender
Meski telah sukses berbaur dengan pengunjung dan menjalin hubungan baik, masalah ternyata masih datang silih berganti. Banyak orang yang salah menafsirkan bahwa kedekatan Gentha dengan customer-nya hanya untuk mendapatkan uang tambahan (tip).
"Banyak orang yang mikirnya gitu. Gue deket sama tamu buat tip. Padahal gue pribadi lebih kayak, 'biar kami bisa buka suara satu sama lain'. Istilahnya, ketika omongan atau curhatan gue didengerin dengan baik sama tamu gue, disitulah gue merasa puas banget. Makanya gue paling senang kalau ada tamu yang duduk di depan bar," ujar Gentha.
Lebih lanjut, Gentha mengatakan, terkadang ia sampai meminta kepada rekan timnya untuk menarik tamu yang datang seorang diri, agar mau duduk di depan bar. Dengan cara ini, ia jadi bisa lebih leluasa berinteraksi dan menambah relasi.

Menariknya, karakter pengunjung atau costumer pun datang dari latar belakang yang berbeda. Sehingga secara tidak langsung, ia dapat mempelajari karakter mereka masing-masing, termasuk perilaku mereka saat sedang memesan minuman.
"Dari pengalaman gue, orang Indoensia itu biasanya pesan minum yang bikin cepat mabuk. Di FnB itu kita harus fleksible, jadi selau kita turutin. Analoginya kalau 1+1, bisa jadi dua atau tiga. Tujuannya agar memuaskan pengunjung. Tapi memang ada batasannya juga," beber Gentha.
Berbeda dengan pengunjung asing atau ekspatriat. Mereka cenderung lebih detail dalam menikmati minumannya. Ambil contoh cocktail. Dalam industri fnb, minuman ini termasuk diminati karena rasanya seimbang.
Ada juga yang memesan tequila sunrise, karena mereka ingin menikmati rasa jus jeruk yang berpadu sempurna dengan tequila.
"Bule itu jarang protes minuman, karena mereka tau apa yang mau mereka pesan. Kalau nonton film James Bond, lihat saja mereka kebanyakan minum dry martini karena minuman itu memang seimbang banget. Dicampur es supaya tidak terlalu strong," imbuhnya.
Gentha juga menjelaskan beberapa kelebihan bartender dibanding profesi lainnya seperti barista.
"Bartender itu bisa jadi barista juga tapi hanya untuk base ya. Contohnya bikin cappucino atau latte, kebanyakan pasti bisa karena hampir semua bar punya mesin kopi. Tapi barista belum tentu bisa jadi bartender," kata Gentha.