Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Keguguran Tari Tidak Sempat Memeluk Bayinya untuk yang Terakhir Kali

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Minggu, 13 Oktober 2019 |20:00 WIB
Kisah Keguguran Tari Tidak Sempat Memeluk Bayinya untuk yang Terakhir Kali
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Dokter menjelaskan, berdasar hasil USG, denyut nadi si bayi sudah tidak ada, detak jantung pun sudah tak terdengar lagi. Selain itu, yang mengagetkan Tari ialah air ketuban yang harusnya melindungi si bayi sudah habis. Tak ada air ketuban di kandungan Tari.

Mengetahui hal ini, Tari mengaku terpuruk sekali. Dia nangis sejadi-jadinya. Lemas badannya mengetahui hal ini, bayi yang dia nantikan harus kembali ke sisi Allah SWT tanpa dia besarkan sebelumnya.

Tahu kalau tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya, Tari kemudian pergi salat. Dia meminta ketenangan hati, hanya itu yang dia bisa lakukan. Hanya Allah SWT yang bisa menerima kesedihan mendalam tersebut.

Isak tangis terdengar dari ujung ponsel. Tari menangis saat diwawancarai Okezone. Lukanya kembali terbuka dan dia juga yang akhirnya menguatkan diri.

"Suami aku, ya, mungkin karena dia pria, jadi nahan nangis. Kalau aku nggak bisa, aku benar-benar nangis bahkan teriak mengetahui kalau bayi perempuanku sudah meninggal dunia," ucapnya sambil terisak.

Hal yang membuatnya luka adalah momen dirinya harus menunggu waktu pengangkatan janin. Di momen itu, dia sadar betul kalau bayi yang ada di dalam kandungannya sudah meninggal dunia. Tidak ada lagi tendangan kaki atau denyut jantung yang bisa dirasakan Tari.

Dia pun sempat ke toilet dan menghubungi keluarganya terkait dengan kabar duka tersebut. Tari mencari kekuatan dari orang terdekatnya.

merenung dia

(Foto : Ilustrasi)

Selama beberapa jam, Tari mesti menguatkan dirinya sendiri. Di saat itu juga dirinya mesti melakukan serangkaian 'berita acara' yang dibutuhkan rumah sakit.

Sakit rasanya ketika dokter bertanya bagaimana bisa bayi yang dikandung meninggal dunia. Saking Tari tak sanggup dengan kesedihannya, dia meminta pada dokter untuk pindah ruangan dan meminta waktu untuk sedikit menenangkan diri.

Sampai akhirnya sesi tanya jawab dan pemeriksaan lanjutan sudah dilakukan, Tari kembali ke ruang istirahat dan menjalani persiapan pengangkatan bayinya.

Prosesi itu terjadi pada 14 Juni 2019. Dikarenakan air ketuban yang sudah habis, pengangkatan janin dilakukan dengan operasi caesar. Selain karena air ketuban, psikis Tari pun sudah tak menunjang untuk melakukan persalinan normal.

Sebelum sesi operasi berlangsung, Tari kembali mendekatkan diri pada Allah SWT. Dia pasrahkan semuanya pada-Nya. Tangis terus mengalir seiring dengan momen persalinan berlangsung.

Bahkan, berdasar cerita Tari, suster yang menanganinya sempat menguatkan Tari.

"Mbak boleh nangis sekarang, tapi pas operasi jangan, ya. Takutnya nanti ada penegangan di beberapa bagian dan itu bahaya," katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement