Mengganggu kesehatan mental
Selain menimbulkan pro dan kontra, Film Joker juga diklaim dapat memperparah kesehatan mental bagi mereka yang memiliki riwayat mental issues. Bahkan menjelang peluncurannya, film besutan sutradara Todd Phillips dan dibintangi aktor kawakan Joaquin Phoenix itu disebut-sebut berpotensi membangkitkan memori tragedi penembakan massal di Aurora, Colorado pada 2012, serta dikhawatirkan akan menyulut insiden serupa tahun ini.
Hal tersebut berhasil menarik perhatian Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. Kepada Okezone, wanita yang akrab disapa Mei itu menjelaskan bahwa film ini bisa menimbulkan dua dampak yang berbeda tergantung kondisi mental si penonton.

"Seperti 2 sisi mata uang. Kalau penontonnya tidak memiliki masalah mental enggak akan jadi masalah, karena film ini menggambarkan perjuangan seorang Joker dalam menghadapi kemisikinannya" terang Mei saat dihubungi via sambungan telefon, Minggu (6/10/2019).
Namun di sisi lain, sosok Arthur atau Joker digambarkan dalam kondisi mental yang tidak stabil. Hidupnya penuh konflik, tragis, dan ironis, sehingga film ini dikhawatirkan dapat memicu atau bahkan mengganggu kesehatan mental.
"Tontonan atau lingkungan itu hanya salah satu bagian yang dapat memperparah kesehatan mental. Jadi memang tidak direkomendasikan bagi yang memiliki kecenderungan atau masalah dengan kesehatan mental. Dikhawatirkan dapat terbawa dan memicu secara psikologis," tegas Mei.
Lebih lanjut, Mei menjelaskan, bila ditelisik secara mendalam, film Joker mengajak penonton untuk menyelami jiwa seorang Arthur yang 'sakit' di tengah kehidupan sosial yang tidak adil. Ini bisa sangat berbahaya ketika dikaitkan dengan kondisi politik dan kesejahteraan di Indonesia.

Masyarakat Indonesia sebenarnya kurang lebih mengalami hal yang sama dengan kehidupan Arthur. Banyak orang merasa hidupnya begitu susah, serba mahal, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin.
Maka dari itu, Joker hanya cocok untuk mereka yang memiliki pemahaman yang baik terhadap diri sendiri dan kehidupannya. Tidak direkomendasikan untuk individu dengan riwayat kesehatan mental dan remaja yang masih mencari jati diri.
Mei khawatir bila nantinya banyak orang yang menganggap kejahatan sebagai hal wajar dan bisa dimaklumi. Terlebih setelah melihat perjalanan hidup dan penggambaran sosok Arthur dalam film tersebut.
"Saya cuma khawatir kalau yang menonton jadi memiliki simpati terhadap tokoh Arthur, atau pada akhirnya memiliki empati karena penggembaran film itu. Sehingga saat kita melihat kekejaman yang dilakukan Arthur jadi maklum karena film itu sangat mudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Ini yang tidak boleh terjadi," pungkasnya.
(Dinno Baskoro)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.