Keterbukaan informasi membuat konsumen percaya
Di sisi lain, Chief Representative Indonesia - International Markets Meat and Livestock Australia (MLA) Valeska, BSc, BVMS, menjelaskan kalau sekarang ini konsumen daging di Indonesia semakin "kepo". Mereka tidak hanya ingin tahu 'ini daging apa?' atau 'Ini berapa gram, ya, kira-kira?' Tapi sampai ke bagaimana daging ini didapatkan dan kualitasnya secara detail.
Makanya, sambung dia, di Australia sendiri sekarang ini memberikan semacam fun fact terhadap daging yang mau dibeli konsumen. Hal itu disediakan guna mengakomodir keinginan konsumen.
"Semakin banyak informasi yang konsumen dapatkan, mereka akan semakin percaya dengan produsen daging sapinya. Sebab, konsumen beraggapan, si produsen tidak menutupi apa-apa darinya, termasuk apa makanan yang diberikan pada daging sapi yang akan dibeli," ucap Valeska di acara yang sama.

Bahkan, salah satu produsen penyedia daging sapi Australia sampai menyediakan barcode untuk konsumen yang pengin tahu lebih banyak informasi dari daging sapi tersebut. Jadi, si produsen coba memaksimalkan teknologi yang ada dan sepertinya milenial sudah sangat dekat dengan hal itu.
Terkait dengan kehalalan daging Australia yang sangat tersohor itu, Valeska bisa menjelaskan kalau pihaknya sangat yakin ada informasi mengenai label "halal" tersebut di kemasan daging. Jadi, konsumen dapat mempelajari juga sedetail itu Australia menjamin kehalanan yang tentu terintegrasi dengan lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Kehalalan daging sapi Australia sudah tak bisa diragukan lagi dan kami memastikan masyarakat Indonesia yang mengonsumsi daging Australia tak usah khawatir dengan hal penting itu," tambahnya.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.