Prof Gillmore mengatakan kepada BBC, obat itu merupakan pengembangan yang inovatif. "Ini membuat penyakit yang sebelumnya tidak dapat diobati, dapat diobati," katanya.
Dignam mengaku lega mendengar berita itu. "Saya pada awalnya merasa sedih. Perasaan pertama yang saya rasakan adalah karena saya memikirkan orang lain yang menderita penyakit kanker namun tidak memiliki obat. Saya hanya merasa tidak berharga atau semacamnya."
Dignam sendiri mengatakan, dia akan melakukan yang terbaik untuk menerima semua perawatan. "Saya akan melakukan semua yang saya bisa."
Berbicara langsung dengan RTE, Dignam mengatakan, ia merasa telah dijatuhi hukuman mati dengan penderitaan akibat kanker. "Namun sekarang dengan penemuan obat itu, hukuman mati sudah dicabut, rasanya luar biasa."
(Dyah Ratna Meta Novia)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.