Dokter Albert mencontohkan, saat seseorang merasa stres karena ujian, maka dirinya akan berusaha untuk belajar dengan baik agar bisa mengerjakan soal-soal.
"Bayangkan kalau dia tidak merasa stres, dia tidak belajar. Hasil ujiannya bisa jadi jelek. Dalam hal ini stres menjadi baik karena bisa mendorong seseorang berprestasi," jelasnya.
Stres yang berdampak positif dikenal dengan istilah eustres. Jenis stres ini menguntungkan bagi kesehatan, motivasi, kinerja, dan kesejahteraan. Biasanya orang-orang yang mengalami akan merasa positif dan menyemangati diri sendiri serta mampu mengatasi rasa stres itu.

Sebaliknya, jenis stres yang berdampak negatif dengan istilah distres. Kondisi ini ditandai dengan perasaan tidak menyenangkan, tenaga terkuras, menurunkan kinerja, tidak dapat diatasi, dan terjadi dalam jangka panjang. Tanda-tanda ini harus diwaspadai.
"Orang seringkali tidak waspada jika dirinya stres, mereka kerap memaksakan diri untuk tetap bertahan. Padahal tingkat stresnya itu sudah melebihi kemampuan diri untuk beradaptasi. Di saat inilah mereka membutuhkan bantuan untuk mengatasi stres, mulai dari bantuan terhadap diri sendiri, bantuan dari orang lain, hingga tenaga profesional," tandas dr Albert.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.