Dijelaskan juga di masa Pemerintahan PB IX selalu mengendarai perahu sebagai sarana transportasi. Tak heran sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo menjadi jalur transportasi.
Untuk itulah di depan Pesangrahan ini dibuatkan pelabuhan yang digunakan untuk melabuhkan perahu. Sayang sekali bekas pelabuhan tersebut harus hilang karena proyek Bengawan Solo kala itu.
Setelah beberapa ratus tahun kemudian, salah satu perahu yang konon sering digunakan PB IX kembali ditemukan secara tidak sengaja di aliran sungai Bengawan Solo. Penemuan itu terjadi setelah peristiwa pendaratan darurat pesawat Garuda beberapa tahun lalu. Disebutkan Gusti Moeng, perahu yang ditemukan di dasar Bengawan Solo ini sudah berusia sekitar 300 hingga 400 tahun.
"Salah satu perahu yang digunakan sudah ditemukan terbenam di aliran Bengawan Solo. Dan saat ini sudah dipindahkan di Langenharjo," jelas Gusti Moeng.
Ditambahkan Humas LDA KPH Eddy Wirabhumi dampak dari konflik internal Kraton yang tidak berkesudahan juga berdampak kepada Kraton beserta seluruh asetnya. Jika dulu sebelum terjadi konflik masih bisa "diopeni" karena bisa masuk di dalam lingkungan Kraton, namun karena kondisi internal karut marut semua jadi terbengkalai.
Sementara itu terkait keberadaan Pesangrahan Langenharjo, Wirabhumi berharap ditata secara keseluruhan agar bisa dimanfaatkan menjadi destinasi wisata. Yang pastinya akan memberikan keuntungan bagi banyak pihak termasuk membangkitkan ekonomi masyarakat sekitar.
"Hanya saja perlu pemikiran yang matang terkait blue print dan grand desain-nya. Jangan hanya ngebor sumurnya (sumber air panas saja). Namun ditata sekalian agar menjadi aset wisata dan aset budaya agar bisa semakin memberi nilai saat (peninggalan) itu menjadi living heritage," pungkasnya.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.