Kemudian muncul lagi pertanyaan seputar keuntungan dan masa depan tren tersebut. Apakah keuntungannya tidak sebanding dengan restoran berkonsep kekinian? Atau karena memang belum banyak chef profesional yang mendalaminya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Okezone melakukan wawancara langsung dengan Chef Ronald Prasanto, seorang coffee expert dan pendiri Ron’s Laboratory.
Menurut pengakuannya, di Indonesia sendiri sebetulnya sudah banyak restoran-restoran bagus yang menggunakan teknik Molecular Gastronomi untuk membuat garnish. Namun mengingat proses pembuatannya yang memakan waktu lebih lama, ketika berbicara pemasukan konsep masak seperti ini jauh dari kata menguntungkan, kecuali sang kreator mampu mengemasnya dengan baik.
“Proses pembuatannya lama banget. Contoh saja salah satu menu di Namaaz Dining. Mau bikin apel yang dibentuk jadi kertas lalu disulap lagi jadi kartu nama itu membutuhkan waktu 36 jam. Itulah sebabnya harga makanan Molecular Gastronomi cenderung lebih mahal,” kata pria yang akrab disapa Ron itu.