Perkembangan teknologi turut serta memengaruhi proses tumbuh kembang anak. Terutama bagi mereka yang lahir pada tahun 2010-2025. Mereka disebut juga sebagai generasi alfa yang mayoritas merupakan anak dari generasi milenial atau generasi Y.
Teknologi membuat anak dari generasi alfa sudah memiliki jejak digital jauh sebelum mereka lahir. Sebab segala sesuatu yang menyangkut dirinya didokumentasikan oleh orangtua dan diunggah ke media sosial. Selain itu, teknologi memudahkan anak generasi alfa belajar dengan metode visual dan praktik langsung. Maka tak heran bila ke depannya anak dari generasi ini memiliki keahlian yang lebih tinggi.
Akan tetapi, jangan sampai orangtua lengah dengan kemajuan teknologi yang berada di sekitar anak. Contoh gampannya, kontrol waktu anak menggunakan gadget. Sebab kalau dibiarkan anak bisa saja mengalami kecanduan.
"Sarannya sih anak sampai usia 18 bulan belum boleh diperkenalkan gadget sama sekali, entah itu ponsel, tab, dan semacamnya. Di usia 3 tahun, mereka juga boleh bermain gadget dengan batas waktu maksimal 1 jam. Jangan sampai screen time digunakan sebagai nanny," ujar psikolog Binky Paramitha L, M.Psi saat ditemui Okezone dalam konferensi pers peluncuran seri booklet “The Power of Play” yang diselenggarakan oleh Early Learning Centre, Rabu (6/3/3019), di Jakarta.
Binky menjelaskan jika sekarang banyak orangtua yang menggunakan gadget untuk menenangkan anak. Bahkan tak sedikit yang beralasan gadget dapat membantu tumbuh kembang anak karena banyaknya informasi yang mudah didapat. Namun, tumbuh kembang anak bisa dioptimalkan dengan cara lain contohnya bermain imajinasi.

"Permainan imajinasi mulai muncul di usia 18 bulan dan akan semakin kompleks serta sering dilakukan ketika anak berusia 3 tahun. Melalui permainan ini, anak mengembangkan ketertarikan pada dunia orang dewasa dan ingin menjadi bagian dari dunia tersebut. Dalam permainan imajinasi biasanya melibatkan peran tertentu," jelas Binky.