
Penulis studi Sheldon H. Jacobson, seorang profesor ilmu komputer di Illinois, memperingatkan, penelitian mereka tidak selalu menyiratkan jika satu orang tertentu cenderung menjadi kurus jika mereka sering naik transportasi publik. Namun, dia percaya, menggunakan transportasi publik menciptakan kultur bergerak. Hal ini sesuai dengan program Kementerian Kesehatan RI yaitu GERMAS di mana salah satu di dalamnya adalah mau berolahraga.
Dengan naik transportasi publik, di mana kalau di Indonesia kita bisa menirunya dengan dengan naik KRL, Anda diharapkan lebih banyak kesempatan untuk berolahraga daripada jika Anda hanya berjalan dari pintu depan rumah ke mobil Anda. Hal ini juga bisa menjelaskan perbedaan berat badan Anda.
"Tidak banyak orang yang menggunakan transportasi umum berhenti tepat di luar rumah mereka," kata Jacobson. “Mereka harus berjalan ke atau dari halte. Kalori ekstra yang dibakar itu kecil tetapi gerakan tubuh mereka tetap memberi efek dibandingkan Anda yang hanya berdiam diri," tambahnya.
(Helmi Ade Saputra)