MASYARAKAT Indonesia sangat dekat dengan kebiasaan minum teh. Terlebih di pagi hari atau cuaca dingin, teh menjadi salah satu minuman selain kopi yang pasti dicari dan dikonsumsi. Tidak hanya itu, saat makan pun teh selalu ada sebagai teman makan.
Padahal, teh yang selama ini sudah merasuk jadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia dapat menyebabkan penyakit yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, yaitu anemia. Bahkan, angka prevalensi anemia di Indonesia cukup tinggi salah satunya karena kebiasaan minum teh, mengapa demikian?
“Jadi, memang kenapa sih prevalensi anemia di Indonesia tinggi? Ternyata salah satunya karena kebiasaan minum teh saat makan atau sesaat setelah makan,” ujar dr. Arti Indira, M.Gizi, Sp.GK pada Okezone ketika ditemui di acara Diskusi Atasi Malnutrisi dengan Pangan Terjangkau dan Bergizi, di Jakarta Selatan, Senin (22/10/2018).
Menurut penjelasan Indira, teh tidak tepat bila diminum saat makan atau sesaat setelah makan, karena teh mengandung tannin yang dapat mengganggu penyerapan zat besi. Sedangkan, zat besi adalah salah satu bahan yang diperlukan tubuh untuk membentuk sel darah merah. Jadi, tingginya angka prevalensi anemia di Indonesia salah satunya karena kebiasaan minum teh yang tidak tepat.