"Ya itu karena mereka mengolahnya dengan jeruk cui atau limau. Seperti ketika mereka sedang masak ikan bakar. Ikan mentahnya dibersihkan, lalu ditambahkan air perasan limau. Habis itu langsung dibakar. Bumbunya benar-benar sederhana," jelas William.
Masih berkaitan dengan cerita tersebut, William juga sempat membeberkan fakta menarik yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Warga Toraja ternyata belum terlalu paham tentang fungsi atau penggunaan santan pada makanan.
"Di sana itu banyak sekali daging-daging kerbau sisa ritual yang membusuk karena masyarakat tidak tau cara untuk mengawetkannya. Saya saja sampai kaget, bagian paha kerbau berukuran besar dijual seharga Rp250 ribu. Padahal kalau dibuat rendang (menggunakan santan), daging-daging itu bisa disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama," ungkap William.
Berbeda dengan kawasan Timur Indonesia, karakteristik kuliner di Pulau Sumatera justru memiliki rasa yang lebih kompleks. Pada zaman dulu, para pedagang maupun pendatang dari berbagai penjuru dunia selalu berlabuh di Pulau Sumatera.
(Foto: Manilaspoon)