Dalam pengawasan aparat
Beberapa anggota TNI dan polisi bersenjata bersiaga di sejumlah titik menuju area penyelenggaraan Festival Lembah Baliem. Beberapa pekan sebelumnya, terdapat kasus pemerkosaan terhadap turis luar negeri di Wamena. Adapun, isu separatis juga masih menjadi alasan kewaspadaan aparat.
Susan Boxall mengetahui isu keamanan itu saat ia memutuskan terbang ke Wamena bersama suami dan dua putranya. Selama lima hari berada di Papua, ia mengaku tak merasakan ancaman apapun.
"Kami merasa aman karena kami pergi bersama pemandu wisata. Kami harus bertindak sesuai kearifan lokal," kata dia.

(Foto: BBC Indonesia)
Sejumlah orang diinterogasi polisi pada hari kedua festival Baliem. Mereka diduga mabuk dan mencuri. Situasi itu sempat mengalihkan perhatian wisatawan dari atraksi adat. Alpius Wetipo berkata, pemerintah berencana mendirikan pagar di sekeliling arena festival tahun depan. Menurutnya, upaya itu dapat mencegah pelaku kekerasan berbaur dengan penonton.
"Pagar perlu dibikin agar keamanan terjamin," kata Alpius.
(Baca Juga: Nyaris Bugil! Kendall Jenner Jadi Model Cover Majalah Fashion Dunia)
Apa arti festival bagi warga lokal?
Di luar urusan pariwisata dan keamanan, apa sebenarnya arti festival itu bagi warga lokal dan kelompok suku yang menampilkan tradisi mereka?
"Generasi saya saat ini semakin lupa tradisi. Kegiatan ini harus terus diadakan," kata Decky Hea Lagowan.
Pemuda asli Wamena berusia 20 itu pulang dari perantauannya di Jayapura sebagai mahasiswa untuk menjadi peserta atraksi perang adat. Decky adalah sedikit muda-mudi di antara para penampil yang didominasi peserta paruh baya.
"Festival ini berdampak positif bagi perekonomian kami. Penghasilan warga sekarang sangat minim karena kebun-kebun tidak diperhatikan. Ini untuk mengingatkan pemerintah juga bahwa kami sudah bekerja keras," ucap Decky.
Tidak mengutip ongkos dari turis
Namun apakah permintaan sejumlah uang untuk wisatawan atas setiap sesi foto bersama peserta festival berkoteka merupakan bagian dari upaya perbaikan ekonomi?
Alpius Wetipo mengklaim pemerintah telah mengimbau masyarakat adat untuk tidak mengutip ongkos apapun kepada turis. Meski begitu, ia meminta pelancong menganggap kebiasaan itu sebagai upaya saling menghargai antara pendatang dan warga lokal.
"Ada tempat wisata di mana mereka berpakaian, tapi kadang kalau ada wisatawan, mereka buka pakaian untuk menunjukkan keaslian mereka."
"Jadi mereka semacam mempertaruhkan harga diri mereka dan mengharapkan pengertian pengunjung, apakah mau bayar atau tidak," tutur Alpius.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.