Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intip Gelaran Festival Lembah Baliem 2018, Festival Unik yang Mendunia

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 09 Agustus 2018 |15:51 WIB
Intip Gelaran Festival Lembah Baliem 2018, Festival Unik yang Mendunia
Festival Lembah Baliem 2018 (Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

FESTIVAL Lembah Baliem tahun ini digelar tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018 di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua. Acara ini melibatkan perwakilan 40 distrik dari seluruh Wamena.

Tak hanya atraksi perang adat, kelompok peserta festival juga menampilkan tarian, nyanyian, dan musik tradisional. Para perwakilan distrik itu berasal dari suku Dani, Lani, dan Yali. Mereka, baik laki-laki dan perempuan, bertelanjang dada.

Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak. Adapun, kelompok perempuan dari tiga suku itu mengenakan rok tradisional serta berkalung noken.

Skenario perang

Terdapat sejumlah skenario perang, di antaranya perselisihan yang bermula dari penculikan remaja perempuan dan pembunuhan. Perang antara dua suku lalu terjadi, kaum laki-laki saling bertarung dengan panah dan tombak.

(Baca Juga: Fakta Baru Mengenai Para Pembantu Bugil yang Kontroversial di Dunia)

Beberapa skenario perang berakhir dengan kisah kemenangan dan kekalahan. Namun ada pula yang berujung perdamaian karena para pihak menganggap perang tak dapat menyelesaikan persoalan.

"Kostum mereka sangat indah. Tarian dan atraksinya beragam, setiap suku menampilkan hal yang berbeda," kata Susan Boxall, turis asal Bristol, Inggris.

Setelah menyaksikan Festival Lembah Baliem untuk pertama kalinya, Susan merasa perjalanan jauh dan melelahkan yang ia tempuh dari kampung halamannya menuju Wamena terbayar. Susan menghabiskan setidaknya lima hari sejak terbang dari London, transit di Singapura, Makassar, Biak, dan Jayapura.

"Tradisi ini tidak bisa kami lihat di tempat lain di seluruh dunia," tuturnya.

 

(Foto: BBC Indonesia)

'Tidak semeriah tahun sebelumnya'

Bagaimanapun, ajang tahunan di Lembah Baliem kali ini tak semeriah festival sebelumnya. Pertunjukan adat itu berlangsung sekitar lima jam, selesai sebelum pukul 03.00 WIT.

Kepala Dinas Pariwisata Jayawijaya, Alpius Wetipo, menyebut kisruh pemilihan bupati dan gubernur Juni lalu mempengaruhi penyelenggaraan Festival Lembah Baliem. Ia berkata, pemerintah sengaja mengurangi perwakilan distrik. Alpius pun mengakui warga lokal yang menyaksikan festival itu tak sebanyak tahun-tahun terdahulu.

"Tahun ini sedikit sepi. Karena tahun politik, semuanya kami diperhitungkan, sengaja digelar lebih singkat," tuturnya.

 (Baca Juga: Tentara Wanita dari Rusia Ini Sangat Cantik, Ternyata Dia Adalah)

Dalam pilkada Jayawijaya 2018, calon tunggal John Banua-Marthin Yogobi berhadapan dengan kotak kosong. Telah diwarnai keributan sejak penetapan peserta pilkada, hari pencoblosan dan pengumuman bupati terpilih di kabupaten itu pun tak lepas dari persoalan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement