Budaya dan tradisi di tanah Papua menjadi salah satu daya tarik wisata untuk wisatawan lokal maupun mancanegara. Tradisi-tradisi yang telah diwariskan secara turun-menurun inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam festival, salah satunya Festival Lembah Baliem di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Memasuki tahun ke-30, Festival Lembah Baliem akan digelar selama empat hari pada 7-10 Agustus 2019. Beberapa kegiatan yang bisa diikuti di acara ini adalah paralayang, belajar menganyam noken atau tas khas Papua, wisata kuliner, melihat tari kolosal yang dibawakan oleh 500 penari, hingga mempelajari budaya.
Berikut Okezone rangkum lima alasan kamu harus datang ke Festival Lembah Baliem tahun ini:

1. Pemecahan rekor MURI noken raksasa
Jika 2017 lalu Festival Lembah Baliem memecahkan rekor untuk pelemparan 1.000 sege atau tombak, maka tahun ini berbeda. Pada Agustus mendatang, akan ada pemecahan rekor MURI noken terbesar dengan panjang 30 meter. Menurut Kepala Dinas Kabudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo, pembuatan noken raksasa telah dimulai sejak April 2019 dan dikerjakan oleh 20 orang.
"Sekarang masih proses, 80 persen selesai," ujar Alpius saat ditemui Okezone di Museum Nasional Jakarta baru-baru ini.
Selian menyaksikan noken raksasa, kamu juga bisa belajar membuat noken bersama warga setempat.
"Ada Campus Festival untuk belajar membuat noken. Silakan datang, ada benang, silakan merajut. Boleh rajut satu atau dua hari dan jika belum selesai bisa dilanjutkan di rumah," ucap Bupati Jayawijaya, John Richard Banua.

2. Menampilkan tradisi Bakar Batu
Salah satu yang tidak boleh kamu lewatkan dari Festival Lembah Baliem adalah tradisi Bakar Batu. Ini adalah proses memasak yang dilakukan oleh masyarakat setempat menggunakan batu. Biasanya tradisi ini dilakukan untuk memasak ubi, singkong, sayur, hingga daging.
3. Ada Baliem Market Night
Di Baliem Night Market, semua turis bisa datang dan menikmati kuliner-kuliner khas Papua. Salah satu yang bisa dicicipi di Festival Lembah Baliem ini adalah papeda dan ulat sagu.