Dalam perjalanan sejarah, jagung titi bukan hanya memberi citra dan cita rasa sendiri bagi masyarakat Lamaholot, namun ikut menggoda selera kalangan wisatawan yang berkunjung ke Flores Timur, Lembata dan Alor Pantar sebagai kuliner yang mudah dijangkau.
Para wisatawan merasa belum lengkap jika belum mengantongi jagung titi untuk membawa pulang ke daerah asalnya atau negerinya sebagai tanda mata makanan camilan masyarakat Lamaholot. Dari sini, jagung titi mulai mendunia, karena peran para wisatawan asing tersebut.
Secara ekonomi, kata mantan Bupati Flores Timur Simon Hayon, jagung titi diproduksi secara manual atau tradisional, namun tingkat permintaannya cukup tinggi di pasaran dengan takaran harga berkisar antara Rp15.000 - Rp20.000 per wadah.
Seiring perjalanan zaman, Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga membantu mesin pembuat emping jagung kepada sejumlah kelompok masyarakat setempat untuk menghidupkan industri rumah tangga. Namun, antara jagung emping dan jagung titi tradisional, rasanya gurihnya tetap saja beda.
Jagung titi dalam bentuk emping maupun masih bersifat tradisional, kemudian dipasarkan ke sejumlah swalayan yang ada di Nusa Tenggara Timur, seperti yang tampak marak di Kupang, Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ini dengan harga bervariasi sesuai bentuk dan ukurannya.
Jagung titi ini sekilas nampak seperti emping melinjo khas Banten. Rasa jagung titi gurih walaupun tidak dibumbuhi namun bertesktur renyah, sehingga jagung titi menjadi camilan favorit di Nusa Tenggara Timur, khususnya bagi masyarakat yang berbudaya Lamaholot.
Tidak mengherankan jika masyarakat Flores Timur perantauan kembali ke kampung halaman, hal pertama dan paling penting dibawa pulang adalah jagung titi atau orang Lamaholot sering menyebutnya "Wata Kenaen". Dan jagung titi, merupakan sebuah ikatan budaya yang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Lamaholot.
Karena itu, bagi orang Lamaholot, belum makan jagung titi rasanya belum pas, jika sudah berada di kampung halaman atau mendapat kiriman dari keluarga di kampung halaman, karena bagi orang Lamaholot di perantauan, "Wata Kenaen" bukan sekadar camilan biasa, tetapi memiliki makna kultural, nostalgia dan membawa simbol Lamaholot yang khas.
Dengan mengonsumsi jagung titi, orang Lamaholot seakan-akan diingatkan untuk tidak lupa kampung halaman. Ibarat kata pepatah "Lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang".