BENTUK ulat sagu dan informasi tentangnya mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Kendati demikian, belum semua orang pernah melihat, memegang, atau bahkan mencicipi langsung ulat sagu.
Di daerah-daerah Indonesia bagian timur, ulat sagu cukup mudah ditemui, karena pohon sagu banyak tumbuh di alamnya. Ulat sagu juga menjadi makanan khas daerah Indonesia bagian timur dan cukup banyak cara pengolahannya.
Baca juga: Resep Ikan Bakar Bumbu Kunyit untuk Makan Malam
Dalam rangkaian Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2018, Okezone berkesempatan untuk menjelajahi Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, dan memburu ulat sagu, yang disebut sabeta dalam bahasa daerah setempat.
Untuk bisa memburu ulat sagu, harus menempuh perjalanan sekira satu jam dari pusat Jailolo ke Desa Bukubualawa di Gunung Manyasa yang artinya menyesal. Jalan menurun, menanjak, dan berkelok di Gunung Manyasa harus dilewati dengan hati-hati.
Kelokan dan tanjakan cukup ekstrem, butuh kemampuan menyetir tingkat tinggi, namun tenang saja, sebab jalanan menuju Desa Bukubualawa sudah bagus, walaupun masih ada beberapa titik yang berlubang. Di sepanjang perjalanan pula Anda bisa menyaksikan keseharian warga lokal Jailolo yang hidup berdampingan meski berbeda agama.