Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masalah Kesehatan Mengancam Bayi yang Lahir dengan Berat Lebih dari 4 Kg

Agregasi Hellosehat.com , Jurnalis-Jum'at, 27 April 2018 |06:35 WIB
Masalah Kesehatan Mengancam Bayi yang Lahir dengan Berat Lebih dari 4 Kg
Ilustrasi (Shutterstock)
A
A
A

Sementara itu, ibu yang melahirkan bayi besar lewat persalinan normal berisiko mengalami cedera terkait kelahiran, termasuk sobekan besar pada rahim, vagina dan rektum, serta cedera pada tulang duduk/tulang ekor. Melahirkan bayi makrosomia secara normal juga meningkatkan risiko Anda mengalami perdarahan hebat selama melahirkan yang bisa berakibat fatal akibat otot rahim yang tidak berkontraksi setelah melahirkan (atonia uteri). Bayi yang besar juga berarti Anda lebih mungkin menjalani operasi caesar, yang memiliki risikonya tersendiri.

1. Cedera bayi saat persalinan

Butuh waktu yang lebih lama dan proses yang lebih rumit untuk dapat sukses melahirkan bayi besar lewat persalinan normal. Bayi makrosomia berisiko mengalami distosia bahu selama proses kelahiran. Distosia bahu adalah sebuah kondisi di mana bahu terjebak di dalam tubuh ibu setelah dokter berhasil menarik kepalanya keluar. Ini merupakan situasi yang jarang terjadi, tapi sangat serius karena dapat menyebabkan cedera parah bahkan kematian.

Baca Juga: Terlalu Baik di Tempat Kerja Bisa Bikin Sial, Kok Bisa?

Bahu bayi yang terjebak di bawah tulang panggul ibu selama persalinan dapat menyebabkan kerusakan saraf pada bahu, lengan, dan leher bayi. Kerusakan saraf terjadi pada 2-16% bayi yang memiliki distosia bahu. Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi Anda bisa berakhir dengan tulang selangka yang patah atau tulang lengan atas.

Kematian bayi bisa terjadi akibat asfiksia (kekurangan oksigen) ataupun trauma lahir yang bisa menimbulkan cacat fisik atau neurologis, misalnya brachial palsy dan fraktur klavikula. Melahirkan bayi besar juga dapat mengakibatkan bayi memerlukan bantuan pernapasan setelah persalinan dan memiliki kelainan otot-otot jantung yang lebih tebal. Bayi besar juga berisiko tinggi untuk mengalami penyakit kuning (jaundice).

2. Bayi obesitas

Perempuan dengan berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil berisiko dua hingga tiga kali lipat untuk mengalami diabetes gestasional selama kehamilan dibandingkan dengan wanita yang tidak obesitas sebelumnya.

“Nutrisi utama yang mengendalikan pertumbuhan bayi adalah gula,” jelas dr. Kristin Atkins, spesialis kedokteran ibu dan janin di University of Maryland School of Medicine, dilansir dari Live Science. Oleh karena itu, bayi besar atau obesitas biasanya berasal dari ibu yang juga obesitas.

Ilustrasi, Shutterstock 

Kelebihan gula darah dan produksi insulin dapat menyebabkan kelebihan pertumbuhan dan penyimpanan lemak sehingga membuat berat bayi semakin besar. Di rahim, bayi-bayi ini sudah terbiasa dengan kadar gula tinggi, tapi saat mereka lahir, sumber makanan mereka terputus tiba-tiba. Pada akhirnya, bayi besar cenderung memiliki gula darah rendah dan perlu dipantau sejak lahir.

3. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, tingginya kadar gula darah, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, atau kadar kolesterol tidak normal. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Bayi besar berisiko tinggi untuk mengalami sindrom metabolik karena memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya, seperti obesitas dan resistensi insulin.

4. Autisme

Risiko autisme tidak hanya tampak terjadi pada bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), namun juga pada bayi yang lahir dengan berat berlebih. Hasil studi dari Manchester University tahun 2013 lalu menemukan bahwa bayi besar yang lahir dengan berat di atas 4.5 kg menunjukkan peningkatan risiko autisme sebanyak 60 persen, daripada bayi dengan berat normal.

Peneliti mencurigai bahwa kaitan antara bayi lahir besar dengan risiko autisme bermula pada masalah pertumbuhan bayi selama dalam kandungan, yang mungkin diakibatkan oleh abnormalitas fungsi plasenta. Apa pun yang mendorong kelainan perkembangan dan pertumbuhan juga akan memengaruhi perkembangan otak bayi. Risiko ini muncul sangat tinggi pada bayi-bayi di mana mereka tumbuh dengan buruk dan berlanjut di rahim sampai setelah 40 minggu. Ini mungkin karena bayi-bayi ini terpapar oleh kondisi yang tidak sehat selama dalam rahim ibu dalam waktu lama.

(Risna Nur Rahayu)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement