Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masalah Kesehatan Mengancam Bayi yang Lahir dengan Berat Lebih dari 4 Kg

Agregasi Hellosehat.com , Jurnalis-Jum'at, 27 April 2018 |06:35 WIB
Masalah Kesehatan Mengancam Bayi yang Lahir dengan Berat Lebih dari 4 Kg
Ilustrasi (Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Awal tahun lalu, netizen dunia sempat dibuat tercengang oleh seorang ibu asal Melbourne, Australia yang melahirkan bayi besar dengan berat hampir lebih dari 6 kilogram lewat 7 jam persalinan normal tanpa bantuan epidural sama sekali. Kasus yang sama juga pernah terjadi di Tanah Air kita sendiri di tahun 2009, di mana seorang bayi asal Sumatera Utara lahir dengan berat badan mencapai 8,7 kilogram.

Memiliki bayi besar yang gemuk nan menggemaskan adalah impian banyak ibu. Tapi sementara kita sering mendengar tentang risiko kesehatan yang dihadapi bayi saat mereka lahir terlalu kecil, bayi besar tidak selalu sehat. Bayi yang lahir dengan berat berlebih menghadapi komplikasi kesehatan yang sama bahayanya seperti anak prematur.

Baca Juga: Ilmuan ITB Ubah Bungkus Plastik Mi Instan Jadi Bahan Bakar Minyak

Berapa berat badan bayi saat lahir yang dianggap normal?

Berat badan bayi baru lahir dikatakan normal ketika angka di timbangan berada di kisaran 2,5 kilogram hingga 4 kilogram, khususnya pada bayi yang lahir cukup umur (usia kehamilan 37-40 minggu).

Berbeda dengan bayi prematur — bayi lahir kurang dari 37 minggu yang biasanya memiliki berat badan kurang dari 2,5 kilogram — bayi bisa dikatakan besar atau mempunyai berat badan berlebih jika angka di timbangan mencapai lebih dari 4 kilogram. Bayi ini biasanya disebut dengan bayi besar atau bayi raksasa. Dalam dunia medis, bayi baru lahir dengan berat badan melebihi 4 kilogram disebut dengan makrosomia.

Ilustrasi, Shutterstock 

Dua contoh kasus di atas hanyalah sebagian kecil dari tren bobot lahir bayi yang semakin meningkat secara global. Angka kelahiran bayi lahir dengan berat sangat besar meningkat hingga sebanyak 15-25 persen dalam 2-3 dekade terakhir di banyak populasi berbeda di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa sepuluh persen bayi baru lahir tergolong makrosomik. Sementara itu belum ada data terinci dari tingkat kejadian bayi makrosomia di Indonesia.

Apa yang menyebabkan berat badan bayi besar saat lahir?

Bayi besar mungkin memiliki kode genetik berbeda ataupun kondisi medis tertentu selama dalam kandungan yang bisa mempercepat pertumbuhan janin. Tapi para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa tren bayi besar lebih terkait erat dengan banyaknya ibu yang mengalami obesitas sebelum dan selama kehamilan.

Jika Anda menderita diabetes sebelum hamil (diabetes pra-gestasional) atau Anda menderita diabetes selama kehamilan (gestational diabetes), Anda juga lebih mungkin untuk mengandung dan melahirkan bayi besar.

Di sisi lain, sebagian besar penyebab dari kasus bayi dengan berat lahir besar tetap tidak dapat dijelaskan, dan kebanyakan bayi makrosomik tidak memiliki faktor risiko yang dapat dikenali.

Apa risikonya memiliki bayi besar?

Makrosomia terkait dengan kematian bayi saat lahir, cedera neonatal, kematian ibu, dan komplikasi kelahiran sesar. Di kemudian hari, bayi-bayi ini juga menghadapi peningkatan risiko masalah kesehatan yang menghambat kualitas hidupnya, seperti obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement