Selain itu, membaca dianggap sebagai aktivitas feminin dan ini membuat anak perempuan lebih termotivasi dan sering menjadi pembaca.
Periset menemukan bahwa fakta ini membuat sekolah dengan lebih banyak anak perempuan, meningkatkan prestasi murid satu sama lainnya. Tak terkecuali pada murid laki-laki. Singkatnya, anak perempuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih merangsang atau produktif.
"Alih-alih berfokus pada 'kesuksesan' di sekolah, kita juga harus mengajari mereka bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dalam bersikap sosial, menjalani hubungan, dan menjadi warga negara yang baik di sebuah komunitas," terang periset.
(Santi Andriani)