Kolaborasi dukungan dari pihak sekolah, teman-teman, serta kami sebagai orangtua dan keluarganya berperan penting dalam menyuntikkan semangat agar Anyo tetap mau menjalani pengobatan. Anyo juga bukanlah anak yang minder. Dia terbilang jarang sekali menunjukkan muka lesu karena harus kemoterapi. Dia bisa menerima kenyataan untuk terus menjalani perawatan sakitnya yang tidak tahu ujungnya sampai kapan. (Baca Juga: 8 Langkah Tepat untuk Mencegah Penyakit Ginjal)
Selain mendapatkan catatan dari teman-temannya, Anyo juga bersekolah di Amsterdam walaupun bukan sekolah formal. Sama seperti anak lainnya, Anyo tetap ikut serta dalam ujian nasional tingkat SMP dan SMA di sekolah Indonesia yang ada di Eropa karena masih terus menjalani pengobatan.
Kebetulan letaknya ada di Den Haag, Belanda sehingga lokasinya tidak jauh dari rumah sakit. Anyo tergolong anak yang aktif. Dia bahkan ikut bergabung dalam perhimpunan pelajar Indonesia yang ada di Belanda. (Baca Juga: Waspada Penyakit Rubella, Jangan Lupa Bawa Anak Anda Imunisasi MR di Bulan Agustus)
Menemani Anyo menjalani perawatan kemotrapi di luar negeri selama kurang lebih 7 tahun sebenarnya tidak mudah bagi saya. Selain Anyo, saya masih memiliki dua orang anak lain yang masih kecil-kecil dan membutuhkan perhatian. Tapi saya bersyukur kedua anak saya yang lainnya bisa mengerti kalau saya harus fokus mengurus abangnya karena membutuhkan perhatian lebih.
Di sinilah pentingnya peran keluarga besar. Mereka turut membantu saya untuk mengurus dan menjaga kedua anak saya yang lain. Dengan begitu anak-anak saya tidak kekurangan perhatian.