Panah diiberikan racun itu untuk mencari makanan joja (monyet), simakobu, simaigi (babi hutan) dan sibeu tubuh (rusa). Aman Boroi Ogok merasa khawatir karena sudah tidak ada lagi yang menggunakana panah sebagai budaya orang Mentawai.
“Sekarang mereka menggunakan senapan angin, kalau saya pasti akan menjaga namun generasi muda sekarang sudah mulai pudar, saya sudah mengajar anak-anak kami namun mereka selalu melanggar pantangan,” ujarnya.
(Baca Juga: Diam-Diam Liam Hamsworth Kepincut Ombak Pulau Mentawai)
Nasib tradisi murourou (berburu dengan panah) di Mentawai memang diambang kepunahan hal itu dituturkan oleh Pontius Saruruk (25) generasi muda di Desa Muntei.
Saat ini generasi muda di Mentawai sudah jarang dipakai panah tersebut mereka mengejar pendidikan. Jadi ada juga bagian pedalaman yang tidak sekolahkalau itu sama pandai menggunakan panah dengan orang tua dulu di hutan untuk dipakai.
“Kalau berburu sudah memakai senapan angin. Pasalnya kalau membikin panah itu sudah acara ritual dan yang menggunakan sudah jarang, kalau membuat bisa tapi tidak sebagus yang pendahulu kita buat,” kata Pontius.
(foto: Rus Akbar/Okezone)