Sejumlah tanaman memang mengandung zat sianida alami, termasuk singkong. Asisten profesor biologi di Arts & Sciences Washington University di St Louis, Kenneth M. Olsen, PhD, mempelajari tanaman asli Amerika Selatan tersebut. Singkong diimpor oleh Portugis sekira 300-400 tahun lalu. Kemudian para petani di Afrika menanamnya.
Ada singkong pahit dan manis. Tapi, petani di Afrika lebih suka yang pahit karena mengandung tinggi sianida. Singkong yang pahit dapat mencegah serangga atau hama lainnya.
Namun, di Afrika, di mana akar singkong menjadi menu utama pangan, banyak orang miskin menderita bentuk kronis keracunan sianida yang disebut konzo. Namun, sebenarnya seseorang bisa menghindari keracunan dari singkong mengandung sianida.
“Setiap orang memiliki kemampuan untuk detoksifikasi sianida jika mereka menelan singkong atau makanan lain perlahan-lahan dan selama jangka waktu yang panjang,” ujarnya seperti dikutip Wustl.
Selain itu, menurut Olsen, seseorang juga memiliki kemampuan untuk detoksifikasi yang baik jika memiliki cukup protein dalam menu harian, terutama mengandung sulfur asam amino. Minum air yang cukup juga penting untuk detoksifikasi tubuh dari racun.
(Helmi Ade Saputra)