“Usaha ini dirintis sejak tahun 2003, awalnya kita hanya membuat sate sapi, ayam dan telur puyuh. Untuk terlur puyuh itu ribet kerjanya ditambah lagi tenaga terbatas akhirnya dihentikan. Kemudian muncul ide saya untuk membuat sate burung puyuh ini,” tuturnya pada Okezone.
Burung puyuh didatangkan dari daerah Sunur dan biasanya dalam satu hari habis sebanyak 50 ekor. Saking larisnya, pembeli yang telat datang yakni diatas pukul 20.00 WIB, barang tentu bakal tidak kedapatan. Gerai ini sendiri buka sejak sore hari.
“Ini kalau kita jual sate burung puyuh ini hanya tiga sampai jam bertahan karena habis dibeli para pembeli. Umumnya pembeli warga sekitar daerah ini ada juga yang melintas dari Pariaman ke Bandara Internasional Minangkabau atau sebaliknya,” ungkapnya.
Menurut Ali untuk mengolah burung puyuh ini awalnya dibersikan bulunya dan isi perutnya, kemudian dikukus hingga masak. Saat mengukus sudah dilengkapi dengan bumbu. Kalau sudah matang maka akan dipoles kembali bumbu dan dibakar.
“Satu porsi ini satu ekor burung puyuh yang ditusuk pakai lidi, harganya sekira Rp12 ribu. Kayaknya baru saya yang menyajikan burung puyuh tersebut. Untuk mengelolanya sama dengan sate-sate biasanya tapi banyak yang suka dibanding sate daging ayam dan sapi,” tutupnya.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.