Stephanie yang saat itu berusia 10 tahun berpikir, bahwa ketika menjadi seorang muslim dan berhijab tak akan ada perusahaan atau sanggar yang mau menerimanya berlatih lagi. Dia hanya bisa mundur dan melupakan impiannya.
Sedih? Pasti. Entah berapa kali ia menangis kala itu. Walau, ayahnya yang berasal dari Autralia dan ibunya Rusia tidak melarang, namun ia tetap sedih membayangkan tak ada tempat untuk wanita berhijab.
Selang waktu berlalu, Stephanie sepertinya memang sudah ditakdirkan menjadi Balerina. Ketika sedang sibuk belajar agama yang baru dianutnya, ia melihat pembaca berita televisi di Amerika berhijab dan seorang balerina dari Afrika. Saat itu juga pikirannya terbuka.
"Bahwa jilbab, agama, suku, ras, warna kulit, dan bahasa, bukan halangan untuk melakukan apa pun. Saya yakin bahwa orang tak melihat apa yang dipakai atau latar belakang seseorang. Tetapi orang melihat kemampuan. Hal apa yang kita bisa," ujar Stephani saat ditemui Okezone belum lama ini di kawasan Jakarta Selatan.